POLA JABAR - Dalam dunia yang serba cepat serta canggih seringkali terpolarisasi, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain (Empati) dan kesediaan menerima ide baru (Keterbukaan Pikiran) menjadi kualitas yang semakin berharga.
Studi menunjukkan bahwa salah satu cara termudah dan paling mendalam untuk bisa meningkatkan kedua kemampuan ini adalah melalui aktivitas membaca, terutama membaca karya fiksi.
Ketika seseorang tenggelam dalam sebuah cerita, otak kita secara otomatis akan mulai mensimulasikan pengalaman dan keadaan mental karakter. Kita tidak hanya membaca tentang penderitaan atau kegembiraan mereka, tetapi kita merasakan apa yang mereka rasakan.
Proses ini secara ilmiah dikenal sebagai 'Teori Pikiran' (Theory of Mind), yaitu kemampuan untuk memahami bahwa orang lain memiliki keyakinan, niat, dan perspektif yang berbeda dari kita.
Otak kita seolah sedang berlatih 'otot empati', menjadi lebih mahir dalam menafsirkan isyarat sosial dan emosional di kehidupan nyata setelah 'berlatih' bersama karakter dalam buku.
Membaca buka, khususnya memiliki literatur yang kompleks dan melibatkan banyak karakter dari latar belakang berbeda, memaksa pembaca untuk melangkah keluar dari zona nyaman perspektif diri sendiri.
Hal ini adalah inti dari Keterbukaan Pikiran. Untuk dapat mengikuti alur cerita yang melibatkan budaya, keyakinan, atau gaya hidup yang asing, kita harus menangguhkan penilaian (suspend disbelief) dan mencoba memahami motivasi di balik tindakan karakter tersebut, bahkan jika kita tidak setuju.
Berdasarkan temuan, paparan berulang terhadap perspektif yang beragam ini secara bertahap melemahkan bias kognitif yang kita miliki dan meningkatkan toleransi terhadap ambiguitas dan perbedaan. Fiksi, misalnya, seringkali tidak memberikan jawaban hitam-putih, melatih otak untuk menerima bahwa kebenaran seringkali bersifat abu-abu dan bahwa setiap individu memiliki validitas dalam pandangannya.
Oleh karena itu, rutinitas membaca bertindak seperti jendela yang luas, memungkinkan kita melihat dan menghargai keragaman dunia tanpa harus mengalami semuanya secara langsung.