POLA JABAR - Membaca cerita rakyat, atau dongeng tradisional yang diwariskan turun-temurun, ternyata memiliki dampak yang jauh lebih signifikan daripada sekadar hiburan sebelum tidur. Menurut riset terbaru dari sumber terkemuka seperti BBC Culture Kids Program (2025), narasi kuno ini berfungsi sebagai instrumen pendidikan nilai yang sangat efektif dalam membentuk karakter dan moralitas anak. 

Cerita rakyat, dengan alur yang jelas, konflik antara baik dan buruk, serta resolusi yang tegas, menawarkan anak-anak sebuah simulasi kehidupan yang aman untuk mengeksplorasi konsep-konsep abstrak seperti keadilan, kejujuran, keberanian, dan empati. 

Ketika anak dihadapkan pada tokoh seperti Si Kancil yang cerdik, Bawang Merah yang tamak, atau Malin Kundang yang durhaka, mereka secara tidak sadar memproses konsekuensi dari setiap tindakan. 

Proses ini memungkinkan mereka menginternalisasi nilai-nilai universal tanpa merasa digurui, sebab pesan moralnya disampaikan secara tersirat melalui alur cerita yang menarik dan penuh fantasi, membuat pelajaran etika menjadi mudah dipahami dan melekat dalam memori jangka panjang mereka.

Lebih lanjut, cerita rakyat memainkan peran penting dalam mengembangkan empati dan pemahaman lintas budaya pada anak. Sebagian besar cerita rakyat menyajikan tokoh yang harus menghadapi kesulitan, diskriminasi, atau kemiskinan, seperti kisah Cinderella atau tokoh miskin yang berjuang. 

Melalui identifikasi diri dengan tokoh-tokoh ini, anak-anak dilatih untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Mereka merasakan kekecewaan, ketakutan, dan kegembiraan yang dialami tokoh, sehingga secara otomatis memperluas kapasitas mereka untuk berempati. 

Selain itu, dengan membaca cerita rakyat dari berbagai daerah atau negara, anak-anak terpapar pada tradisi, norma, dan pandangan dunia yang berbeda-beda, bahkan sejak usia dini. 

Eksposur ini sangat berharga di era globalisasi, membantu mereka menghargai keragaman budaya dan mencegah pembentukan stereotip atau prasangka. Cerita rakyat pada dasarnya mengajarkan bahwa nilai-nilai kebaikan universal melintasi batas geografis, memperkuat pondasi toleransi dan penghargaan terhadap sesama.

Aspek psikologis dari cerita rakyat juga sangat mendukung pembentukan self-concept atau konsep diri yang positif. Dalam banyak dongeng, tokoh utama seringkali harus melewati tantangan berat, menghadapi monster atau penyihir jahat, dan akhirnya berhasil berkat kegigihan dan kecerdasan mereka.