POLA JABAR - Menulis novel adalah sebuah perjalanan maraton yang menguras energi kreatif dan ketekunan. Namun, semangat yang tinggi seringkali tidak dibarengi dengan pemahaman teknis yang memadai, sehingga banyak penulis pemula terjebak dalam pola-pola kesalahan yang sama. Mengutip poin-poin penting dari diskusi kepenulisan kreatif di Writing Forward, memahami kelemahan sejak dini adalah kunci untuk mengubah naskah amatir menjadi karya yang layak terbit.
Masalah dalam penulisan bukan sekadar soal tata bahasa, melainkan bagaimana sebuah cerita disampaikan secara emosional dan logis. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang sering menghantui para penulis pemula dan cara mengatasinya.
Terlalu Banyak Menjelaskan (Telling, Not Showing)
Kesalahan paling klasik dalam penulisan fiksi adalah kecenderungan penulis untuk mendikte perasaan atau situasi kepada pembaca. Alih-alih menulis, "Budi merasa sangat marah," penulis yang baik akan menggambarkan bagaimana rahang Budi mengeras dan tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.
Showing atau menunjukkan memungkinkan pembaca untuk merasakan emosi karakter secara langsung melalui tindakan dan detail sensorik. Terlalu banyak telling membuat narasi terasa kering dan menjauhkan pembaca dari kedalaman pengalaman karakter.
Penggunaan Kata Keterangan yang Berlebihan
Banyak penulis pemula merasa perlu menambahkan kata keterangan (adverbs) di belakang setiap kata kerja untuk memperkuat makna. Contohnya, "Dia berlari dengan sangat cepat" atau "Dia berteriak dengan sangat keras."
Padahal, dalam penulisan profesional, pemilihan kata kerja yang kuat jauh lebih efektif. Alih-alih menggunakan kata keterangan, gunakanlah kata kerja spesifik seperti "melesat" atau "meroket" untuk menggantikan "berlari dengan cepat." Hal ini membuat kalimat lebih ringkas, kuat, dan memberikan dampak visual yang lebih tajam bagi pembaca.