POLA JABAR - Bagi masyarakat modern, jagung mungkin hanyalah komoditas pangan atau bahan bakar nabati. Namun, bagi peradaban Maya kuno di Mesoamerika, jagung adalah segalanya: ia adalah Tuhan, identitas, dan bahan dasar pembentuk manusia itu sendiri. 

Melansir laporan mendalam dari Smithsonian Magazine, hubungan antara bangsa Maya dan jagung bukan sekadar ketergantungan agraris, melainkan sebuah kontrak spiritual yang menentukan kejayaan dan keruntuhan mereka.

Dalam kitab suci Popol Vuh, narasi penciptaan manusia versi Maya sangatlah unik. Setelah gagal menciptakan manusia dari lumpur dan kayu, para dewa akhirnya berhasil menciptakan manusia yang sempurna menggunakan adonan jagung kuning dan putih. 

Mitos ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur; ia mencerminkan realitas biologis bahwa nutrisi dari jagunglah yang memungkinkan populasi Maya meledak dan membangun piramida-piramida raksasa.

Arkeolog menekankan bahwa tanpa domestikasi tanaman teosinte (nenek moyang jagung) menjadi tongkol jagung yang kaya nutrisi, peradaban Maya mungkin tidak akan pernah mencapai tingkat kompleksitas sosial yang kita kenal sekarang.

Penelitian yang diterbitkan melalui Smithsonian mengungkapkan bahwa bangsa Maya adalah insinyur pertanian yang jenius. Mereka mengembangkan teknik "Milpa", sebuah sistem polikultur di mana jagung ditanam bersama kacang-kacangan dan labu.

Kombinasi ini sangat brilian secara nutrisi dan ekologis: