POLA JABAR - Jagung bukan sekadar komoditas pangan; ia adalah pilar industri global yang menyokong kebutuhan karbohidrat, pakan ternak, hingga bahan bakar nabati (etanol). Namun, di balik hamparan hijau ladang jagung yang luas, terdapat konsekuensi lingkungan yang signifikan. 

Berdasarkan laporan dari berbagai studi ekologi, termasuk perspektif yang sering diangkat oleh National Geographic, intensifikasi budidaya jagung membawa tantangan besar bagi kesehatan planet kita.

1. Ketergantungan Tinggi pada Pupuk Nitrogen

Salah satu ciri utama budidaya jagung modern adalah kebutuhan nutrisi yang sangat tinggi. Jagung merupakan tanaman yang "rakus" akan nitrogen. Untuk mencapai target panen yang maksimal, petani seringkali menggunakan pupuk kimia secara masif.

Masalah muncul ketika tanaman tidak mampu menyerap seluruh nitrogen tersebut. Sisa pupuk akan luruh bersama air hujan menuju sungai dan berakhir di lautan. 

Proses ini memicu eutrofikasi, yaitu ledakan pertumbuhan alga yang menghabiskan oksigen di dalam air, menciptakan "zona mati" (dead zones) di mana kehidupan laut tidak dapat bertahan hidup.

2. Krisis Kelangkaan Air

Jagung memerlukan air dalam jumlah besar untuk tumbuh optimal. Di daerah dengan curah hujan rendah, budidaya ini sangat bergantung pada irigasi air tanah. 

Pengambilan air tanah secara berlebihan untuk lahan jagung dapat menyebabkan penurunan permukaan air tanah, yang pada jangka panjang akan mengancam ketersediaan air minum bagi penduduk lokal dan merusak ekosistem lahan basah di sekitarnya.