POLA JABAR – Meskipun mengandung kekerasan, PUBG (PlayerUnknown’s Battlegrounds) tetap digemari oleh anak-anak dan remaja.

Hal ini terkait dengan fase perkembangan psikologis mereka, di mana rasa pencapaian, identitas sosial, dan manajemen emosi sedang dibentuk.

Lingkungan virtual yang ditawarkan PUBG ternyata memenuhi kebutuhan psikologis dasar tersebut, sehingga anak-anak merasa tertarik dan terlibat.

1. Rasa Pencapaian dan Pengakuan

Menurut jurnal Children’s Motivations for Video Game Play in the Context of Normal Development karya Cheryl K. Olson, motivasi terbesar anak-anak bermain game adalah kompetisi dan keinginan untuk menang.

Kemenangan di PUBG, seperti terkenal dengan istilah Winner Winner Chicken Dinner, memberikan rasa bangga dan meningkatkan self-esteem atau harga diri.

Selain itu, anak-anak sangat peduli dengan status di antara teman sebaya. Memiliki skill tinggi atau peringkat bagus di game membuat mereka merasa divalidasi secara sosial, bahkan menjadi alternatif jalur keberhasilan bagi anak yang mungkin kurang unggul di bidang akademik, olahraga, atau kegiatan lain.

2. Pelarian dari Tekanan atau Rutinitas

Rutinitas sekolah, tugas rumah, atau tekanan sosial terkadang membebani anak-anak. Dunia virtual PUBG menawarkan tempat pelarian untuk bersantai dan mengalihkan pikiran.