POLA JABAR - Perilaku anjing yang berputar-putar dalam upaya mengejar ekornya adalah salah satu pemandangan yang paling umum dan seringkali dianggap lucu oleh pemiliknya, namun dibalik kelucuan tersebut terdapat sejumlah alasan kompleks mulai dari insting alami, kebutuhan emosional, hingga indikasi masalah kesehatan.
Secara umum, perilaku ini paling sering terlihat pada anak anjing (puppy), dan dalam konteks ini, pengejaran ekor adalah bagian dari permainan dan eksplorasi dunia mereka. Anak anjing sedang belajar tentang tubuh mereka, termasuk menemukan dan memahami apa itu ekor yang bergerak-gerak.
Mereka mungkin menganggap ekor mereka sebagai mainan asing yang menarik perhatian mereka, dan ini adalah cara normal bagi mereka untuk berlatih koordinasi, keterampilan motorik, dan berinteraksi dengan lingkungan mereka dalam tahap perkembangan awal.
Namun, pada anjing yang lebih dewasa, perilaku mengejar ekor dapat berkembang menjadi kebiasaan yang lebih serius, dan salah satu penyebab utamanya adalah kebosanan atau kurangnya stimulasi mental dan fisik. Anjing adalah hewan yang membutuhkan banyak aktivitas, dan ketika mereka tidak mendapatkan cukup latihan, interaksi, atau permainan yang menantang, mereka mungkin menciptakan hiburan sendiri.
Pengejaran ekor menjadi kegiatan yang mudah diakses dan memberikan stimulasi fisik dan pelepasan energi yang mereka cari. Perilaku ini, jika diulang-ulang karena kurangnya stimulasi lingkungan, dapat berubah menjadi perilaku stereotip atau kompulsif.
Pada dasarnya, mereka mencari cara untuk mengisi kekosongan mental, dan tindakan berputar-putar memberikan pelepasan dopamin yang membuat mereka merasa nyaman sesaat, yang lantas memperkuat kebiasaan tersebut.
Selain kebosanan, pengejaran ekor yang berlebihan juga dapat menjadi indikator masalah kesehatan atau kecemasan. Menurut berbagai studi yang dikompilasi oleh Live Science, perilaku mengejar ekor secara kronis dapat menjadi tanda adanya gangguan perilaku kompulsif anjing (canine compulsive disorder), yang sebanding dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) pada manusia.
Gangguan ini sering dipicu oleh stres lingkungan, kecemasan perpisahan, atau konflik internal. Dalam kasus lain, pengejaran ekor yang tiba-tiba muncul bisa jadi merupakan respons terhadap ketidaknyamanan fisik; anjing mungkin mengejar ekornya karena adanya iritasi, luka, infeksi, atau kutu di area pangkal ekor atau anus. Masalah kelenjar anal yang tersumbat, misalnya, dapat menyebabkan rasa gatal dan nyeri hebat yang mendorong anjing untuk berputar, menggigit, atau menjilati area tersebut secara kompulsif sebagai upaya meredakan rasa sakit.
Oleh karena itu, meskipun sesekali pengejaran ekor adalah hal yang normal dan lucu, pemilik harus waspada jika perilaku ini menjadi berlebihan, intens, atau menyakiti diri sendiri.