POLA JABAR - Setiap tanggal 14 Februari, jutaan tangkai bunga mawar berpindah tangan sebagai simbol kasih sayang. Namun, pernahkah Anda bertanya mengapa mawar, khususnya yang berwarna merah, menjadi "seragam" wajib bagi mereka yang merayakan Valentine?
Menelusuri catatan dari History.com, tradisi ini bukanlah tren pemasaran modern semata, melainkan warisan budaya yang berakar dari mitologi kuno hingga etiket ketat di era kerajaan.
Akar Mitologi: Darah dan Dewi Cinta
Kaitan antara mawar dan cinta dapat ditarik hingga ke masa Yunani Kuno. Dalam mitologi, mawar merah sering dikaitkan dengan Aphrodite, sang Dewi Cinta.
Salah satu legenda menceritakan bahwa mawar putih berubah menjadi merah setelah terkena darah sang dewi yang terluka saat mencoba menolong kekasihnya, Adonis. Sejak saat itu, mawar merah melambangkan cinta yang mendalam, pengorbanan, dan gairah yang tak padam.
Era Victoria dan Bahasa Bunga (Floriography)
Puncak popularitas mawar sebagai media komunikasi terjadi pada abad ke-19, khususnya di Inggris era Victoria. Pada masa itu, norma sosial sangat membatasi seseorang untuk mengungkapkan perasaan secara terang-terangan melalui kata-kata.
Sebagai solusinya, masyarakat menggunakan bunga sebagai kode rahasia atau yang dikenal dengan istilah floriography. Mawar merah dipilih untuk melambangkan cinta romantis yang kuat.
Semakin merah warnanya, semakin dalam pula pesan yang disampaikan. Inilah alasan mengapa tradisi memberikan mawar tetap bertahan hingga saat ini; karena bunga ini mampu "berbicara" ketika kata-kata dirasa tidak cukup.