POLA JABAR - Penggunaan kelinci (Oryctolagus cuniculus) sebagai hewan model dalam penelitian ilmiah, farmasi, dan kosmetik memiliki sejarah yang panjang dan berkelanjutan, bukan tanpa alasan yang kuat. Sejak lama, para ilmuwan telah memilih kelinci karena sejumlah faktor biologis, praktis, dan logistik yang menjadikannya sangat relevan sebagai representasi sistem mamalia. 

Kelinci memiliki struktur fisiologis dan respons imun yang dalam beberapa aspek penting sangat mirip dengan manusia, menjadikannya subjek yang ideal untuk menguji bagaimana obat-obatan, vaksin, atau bahan kimia tertentu akan bereaksi di dalam tubuh manusia. 

Kemiripan ini terlihat jelas dalam studi tentang penyakit keturunan tertentu, sistem pencernaan, dan respons terhadap obat, sehingga hasil yang didapat dari kelinci sering kali dianggap lebih dapat digeneralisasi pada manusia daripada yang didapat dari hewan pengerat yang lebih kecil, seperti tikus.

Salah satu alasan utama yang memperkuat posisi kelinci dalam penelitian laboratorium sejak dulu, sebagaimana didokumentasikan dalam banyak kajian sejarah termasuk yang dirujuk oleh history.com, adalah kepekaan tinggi mereka terhadap zat tertentu, terutama pada area mata dan kulit. 

Kepekaan unik ini menjadikan kelinci sebagai standar dalam berbagai uji toksisitas, terutama dalam industri kosmetik dan kimia, yang paling terkenal adalah Draize Test. Dalam tes Draize, bahan kimia diaplikasikan pada mata atau kulit kelinci untuk mengukur tingkat iritasi yang ditimbulkan. 

Selain aspek fisiologis, karakteristik reproduksi kelinci juga memberikan keuntungan logistik yang besar; kelinci memiliki siklus hidup yang relatif pendek dan tingkat reproduksi yang cepat, memungkinkan peneliti untuk mengamati efek eksperimen pada beberapa generasi dalam waktu yang singkat. 

Kemampuan untuk menghasilkan keturunan yang banyak dan cepat ini sangat berharga dalam studi genetika, penyakit keturunan, dan pengujian embryotoxicity (bahaya produk pada janin).

Selain kesamaan biologis dan kecepatan reproduksi, faktor kepraktisan juga memainkan peran krusial dalam keputusan para peneliti. Kelinci dianggap sebagai hewan yang jinak, mudah ditangani, dan relatif tidak agresif, mempermudah prosedur penanganan dan pengamatan di lingkungan laboratorium. 

Ukuran tubuh kelinci juga berada di titik ideal: cukup kecil untuk dipelihara secara ekonomis dan membutuhkan fasilitas pemeliharaan yang tidak serumit hewan yang lebih besar seperti primata, tetapi cukup besar untuk memfasilitasi prosedur medis, pengambilan sampel darah, dan pembedahan yang akurat.