POLA JABAR - Kacang mede merupakan salah satu camilan paling populer di dunia karena teksturnya yang lembut dan rasanya yang gurih. Namun, pernahkah Anda memperhatikan bahwa berbeda dengan kacang tanah atau kenari, kacang mede tidak pernah dijual di pasaran dalam keadaan masih di dalam cangkang atau memiliki kulit luar yang utuh?
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Mengacu pada catatan ensiklopedia Britannica, kacang mede secara botani termasuk dalam keluarga Anacardiaceae, yang masih berkerabat dekat dengan tanaman beracun seperti poison ivy. Di balik kelezatan bijinya, tersimpan zat kimia berbahaya yang membuat kulit atau cangkang kacang mede sangat dilarang untuk dikonsumsi.
Ancaman Zat Urushiol
Penyebab utama mengapa kulit kacang mede dianggap berbahaya adalah kandungan minyak yang disebut urushiol. Ini adalah senyawa organik yang sama yang ditemukan pada tanaman merambat beracun. Bagi sebagian besar manusia, kontak minimal dengan urushiol dapat memicu dermatitis kontak alergi yang parah.
Jika kulit atau cangkang kacang mede yang masih mentah mengenai kulit, ia dapat menyebabkan peradangan, ruam kemerahan, gatal yang luar biasa, hingga luka bakar kimia yang menyakitkan. Bayangkan jika zat ini masuk ke dalam sistem pencernaan manusia; efek iritasinya dapat merusak selaput lendir dan menyebabkan komplikasi internal yang serius.
Proses Pengolahan yang Rumit dan Berisiko
Karena adanya ancaman urushiol ini, proses pengolahan kacang mede dari pohon hingga ke meja makan harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan melalui prosedur yang ketat. Cangkang luar kacang mede mengandung cairan kental bersifat korosif yang harus dihilangkan sepenuhnya sebelum bijinya bisa dikonsumsi.
Industri pengolahan kacang mede biasanya menggunakan suhu tinggi melalui proses pemanggangan atau penguapan (steaming) untuk menetralisir racun tersebut. Panas yang ekstrem akan memecah struktur kimia urushiol sehingga biji mede di dalamnya menjadi aman untuk disentuh dan dimakan. Itulah sebabnya kacang mede yang kita beli di toko sebenarnya sudah melalui proses "pemasakan" awal, meskipun sering kali diberi label mentah (raw) untuk merujuk pada rasanya yang belum berbumbu.