POLA JABAR - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa dari ribuan spesies bunga di bumi, mawar merah selalu menjadi pilihan utama saat seseorang ingin menyatakan cinta? Tradisi ini bukan sekadar tren pemasaran toko bunga menjelang Hari Valentine. Menilik catatan sejarah yang pernah diulas oleh Smithsonian Magazine, mawar memiliki akar yang sangat dalam dalam peradaban manusia, menghubungkan mitologi kuno, sastra klasik, hingga evolusi botani.

Mawar tidak hanya menawarkan aroma yang memikat, tetapi juga menyimpan narasi tentang gairah, pengorbanan, dan keindahan yang abadi. Mari kita bedah mengapa bunga ini menjadi simbol romantis paling tangguh sepanjang masa.

Kaitan antara mawar dan cinta dimulai dari legenda Yunani kuno. Konon, mawar tercipta dari air mata Afrodit, dewi cinta, dan darah kekasihnya, Adonis. Mitologi ini menggambarkan bahwa cinta sejati seringkali berdampingan dengan rasa sakit disimbolkan oleh duri yang tajam namun indah.

Bangsa Romawi kemudian mengadopsi tradisi ini dengan menjadikan mawar sebagai atribut Dewi Venus. Di masa itu, kelopak mawar bukan hanya penghias ruangan, melainkan simbol kemewahan dan kerahasiaan. Istilah sub rosa (dibawah mawar) muncul karena mawar sering digantung di langit-langit ruang pertemuan sebagai tanda bahwa pembicaraan di bawahnya bersifat rahasia dan penuh kepercayaan, mirip dengan intimasi dalam sebuah hubungan.

Jika pada masa kuno mawar adalah simbol dewa-dewi, pada abad ke-19, maknanya bergeser menjadi lebih personal. Di era Victoria, masyarakat sangat kaku dalam mengekspresikan perasaan secara verbal. Hal ini melahirkan fenomena floriography atau bahasa bunga.

Melalui floriography, mawar merah secara spesifik didefinisikan sebagai pesan "Aku mencintaimu". Warna mawar yang berbeda memiliki "frekuensi" perasaan yang berbeda pula. Mawar merah tua melambangkan gairah yang mendalam, sementara mawar merah muda (pink) menunjukkan kekaguman atau cinta yang baru tumbuh. Praktik berkirim pesan lewat bunga inilah yang memperkuat posisi mawar sebagai standar emas dalam dunia romansa hingga hari ini.

Secara ilmiah, mawar memiliki keunggulan yang sulit ditandingi bunga lain. Struktur kelopaknya yang berlapis-lapis menciptakan kedalaman visual yang memanjakan mata, melambangkan kompleksitas perasaan manusia.

Selain itu, aroma mawar mengandung senyawa kimia yang secara alami memberikan efek relaksasi dan meningkatkan suasana hati. Berdasarkan studi yang dikutip dari perspektif budaya di Smithsonian, aroma ini telah lama dihubungkan dengan memori dan emosi positif. Itulah sebabnya, menerima buket mawar memberikan dampak psikologis instan berupa rasa bahagia dan dihargai.

Meski kini banyak bunga eksotis dari berbagai belahan dunia tersedia di pasar global, mawar tetap tidak tergoyahkan. Keberadaannya dalam karya sastra dunia, mulai dari soneta Shakespeare hingga lirik lagu pop modern, memastikan bahwa mawar tetap berada di puncak hierarki simbolisme cinta.