POLA JABAR - Sarapan seringkali disebut sebagai waktu makan terpenting dalam sehari, dan ada alasan kuat di baliknya, terutama yang berkaitan dengan kecepatan metabolisme tubuh. Banyak orang yang berusaha menurunkan berat badan memilih melewatkan sarapan dengan harapan dapat mengurangi asupan kalori total. Namun, strategi ini justru dapat menjadi bumerang. 

Pola makan yang tidak teratur, khususnya melewatkan makan pagi, mengirimkan sinyal bahaya ke tubuh, yang pada akhirnya dapat memperlambat laju pembakaran kalori.

Proses metabolisme dimulai ketika kita bangun tidur. Setelah periode puasa semalaman (tidur), tubuh membutuhkan bahan bakar untuk mengaktifkan kembali fungsi-fungsi internalnya. 

Sarapan berfungsi sebagai tombol on yang memberi tahu tubuh bahwa pasokan makanan aman dan sistem dapat mulai bekerja pada kecepatan penuh. Ketika sinyal ini diabaikan, tubuh merespons dengan mekanisme pertahanan purba, yang dikenal sebagai mode kelaparan atau mode bertahan hidup.

Menurut ulasan dari sumber kebugaran seperti Verywell Fit, mode bertahan hidup ini adalah alasan utama metabolisme melambat. Ketika tubuh tidak menerima asupan kalori di pagi hari, ia menginterpretasikannya sebagai sinyal kelangkaan makanan. 

Untuk memastikan energi bertahan selama mungkin, tubuh merespons dengan cara mengurangi pengeluaran energi dasarnya, yang berarti metabolisme melambat secara signifikan. Langkah ini, yang dulunya membantu nenek moyang kita bertahan hidup saat kelaparan, kini justru menghambat tujuan penurunan berat badan.

Inilah Mekanisme Perlambatan Metabolisme

1. Penurunan Efek Termogenesis Makanan (TEF)

Setiap kali kita makan, tubuh menggunakan energi untuk mencerna, menyerap, dan memproses nutrisi. Proses ini disebut Termogenesis Efek Makanan (TEF), yang berkontribusi sekitar 10% dari total kalori yang kita bakar setiap hari.