POLA JABAR - Dalam satu dekade terakhir, penggunaan rokok elektrik atau vape telah menjadi fenomena global, termasuk di Indonesia. Awalnya dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional, dunia medis kini justru dihadapkan pada tantangan baru yang mengkhawatirkan: EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury).

Merujuk pada studi dalam Andalas Medical Journal, EVALI merupakan kondisi peradangan paru-paru akut yang secara spesifik disebabkan oleh penggunaan produk vaping. Fenomena ini bukan sekadar iritasi tenggorokan biasa, melainkan kerusakan jaringan paru yang bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat.

EVALI pertama kali mendapat perhatian serius pada tahun 2019 setelah munculnya laporan kasus massal di Amerika Serikat. Penyakit ini menyerang sistem pernapasan bawah, di mana alveoli (kantung udara kecil di paru-paru) mengalami kerusakan parah. 

Meskipun penyebab pastinya masih terus diteliti, keterlibatan bahan tambahan seperti vitamin E asetat dan kontaminan lain dalam cairan vape menjadi tersangka utama dalam memicu reaksi peradangan hebat di dalam paru-paru.

Salah satu tantangan dalam mendeteksi EVALI adalah gejalanya yang menyerupai infeksi pernapasan umum atau pneumonia. Banyak pasien awalnya mengeluhkan sesak napas, batuk kering, dan nyeri dada. Namun, yang membedakan EVALI adalah seringnya muncul gejala sistemik seperti demam, menggigil, serta gangguan pencernaan berupa mual, muntah, hingga diare.

Karena gejalanya yang tumpang tindih dengan penyakit paru lainnya, riwayat penggunaan vape menjadi kunci utama dalam diagnosis medis. Tanpa keterbukaan pasien mengenai kebiasaan vaping mereka, diagnosis sering kali terlambat dilakukan.

Secara klinis, paparan zat kimia dalam uap vape menyebabkan respons imun yang berlebihan. Paru-paru bereaksi terhadap partikel asing tersebut seolah-olah terjadi infeksi bakteri yang masif. Cairan mulai mengisi kantung udara, menghambat pertukaran oksigen, dan dalam kasus yang parah, menyebabkan gagal napas.

Data dari Andalas Medical Journal menekankan bahwa meskipun kandungan nikotin sering menjadi sorotan, zat pelarut dan perasa dalam cairan vape memiliki risiko toksisitas yang tidak boleh diremehkan saat dipanaskan pada suhu tinggi.

Pengobatan EVALI biasanya memerlukan rawat inap di rumah sakit. Dokter umumnya memberikan terapi kortikosteroid untuk meredakan peradangan hebat di paru-paru, serta bantuan oksigen bagi mereka yang mengalami penurunan saturasi.