POLA JABAR - Dalam beberapa tahun terakhir, rak supermarket kini tidak lagi hanya didominasi oleh deretan karton susu sapi. Mulai dari susu kedelai, almond, hingga oat kini menjadi pilihan populer bagi mereka yang menjalani gaya hidup sehat atau memiliki diet khusus. Namun, muncul pertanyaan besar: apakah susu nabati benar-benar lebih unggul daripada susu hewani?
Melansir data dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, pilihan antara susu nabati dan susu hewani sebenarnya sangat bergantung pada kebutuhan nutrisi individu, toleransi tubuh, dan tujuan kesehatan jangka panjang.
Nutrisi Utama: Protein dan Kalsium
Susu sapi secara alami merupakan sumber protein lengkap, kalsium, vitamin D, dan vitamin B12 yang sangat baik. Protein dalam susu hewani mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan otot dan perbaikan jaringan.
Di sisi lain, sebagian besar susu nabati memiliki kandungan protein yang lebih rendah secara alami, kecuali susu kedelai. Harvard T.H. Chan mencatat bahwa susu kedelai adalah alternatif nabati yang paling mendekati profil nutrisi susu sapi dalam hal jumlah protein. Bagi konsumen yang beralih ke susu nabati seperti almond atau beras, sangat penting untuk memeriksa label kemasan guna memastikan produk tersebut telah difortifikasi (ditambahkan) dengan kalsium dan vitamin D agar setara dengan manfaat susu hewani.
Dampak Terhadap Kesehatan Jantung
Salah satu keunggulan susu nabati yang sering disorot oleh para ahli di Harvard adalah kandungan lemaknya. Susu sapi, terutama jenis whole milk, mengandung lemak jenuh yang jika dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat).
Sebaliknya, susu nabati umumnya mengandung lemak tak jenuh yang lebih sehat bagi jantung. Selain itu, susu nabati secara alami bebas kolesterol. Hal ini menjadikan susu nabati sering kali disarankan bagi individu yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular atau sedang berupaya menjaga profil lipid darah tetap stabil.
Gula Tambahan: Jebakan dalam Susu Nabati