POLA JABAR - Di tengah pencarian solusi global untuk menekan emisi gas rumah kaca, perhatian dunia kini mulai beralih dari hutan di daratan menuju ekosistem di bawah permukaan laut. Salah satu aktor utama yang jarang tersorot namun memiliki potensi luar biasa adalah rumput laut.
Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, rumput laut terbukti bukan sekadar komoditas pangan, melainkan penyerap karbon alami yang sangat efektif.
Mengapa Rumput Laut Disebut Penyerap Karbon?
Seperti tumbuhan di darat, rumput laut melakukan proses fotosintesis untuk tumbuh. Dalam proses ini, mereka menyerap karbon dioksida (CO2) dari air laut dan mengubahnya menjadi biomassa. Fenomena ini merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai Blue Carbon atau Karbon Biru karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir.
Kelebihan utama rumput laut dibandingkan tanaman darat adalah kecepatan pertumbuhannya. Beberapa spesies rumput laut dapat tumbuh hingga puluhan sentimeter dalam satu hari, yang berarti kapasitas penyerapan karbonnya jauh lebih cepat dan masif dibandingkan pohon di hutan tropis.
Bagaimana Karbon Terkunci di Dasar Laut?
Pertanyaan besarnya adalah: ke mana karbon tersebut pergi setelah diserap? Penelitian menunjukkan bahwa sebagian dari biomassa rumput laut yang mati atau rontok akan tenggelam ke laut dalam.
Ketika materi organik ini mencapai sedimen di dasar laut yang minim oksigen, karbon tersebut akan terperangkap selama ratusan hingga ribuan tahun. Proses alami ini mencegah CO2 kembali ke atmosfer, sehingga secara efektif membantu mendinginkan suhu bumi.
Potensi Ekonomi dan Lingkungan yang Sejalan