POLA JABAR – Kelahiran seorang anak sering kali dipandang sebagai puncak kebahagiaan bagi seorang perempuan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua proses persalinan berjalan mulus.
Bagi sebagian ibu, momen tersebut justru menjadi pengalaman traumatis yang meninggalkan luka emosional mendalam dan berdampak signifikan pada kondisi psikologis mereka setelah kembali ke rumah.
Menurut laporan dari Psychology Today, terdapat berbagai faktor medis yang dapat memicu ketegangan luar biasa selama proses melahirkan.
Tindakan operasi caesar darurat, komplikasi seperti perdarahan hebat, hingga kondisi bayi yang memerlukan perawatan intensif di ruang NICU merupakan beberapa pemicu utama stres pascatrauma.
Gejala yang muncul sering kali menyerupai Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Para ibu yang mengalami hal ini mungkin akan terus terbayang momen persalinan, merasakan kecemasan akut saat bertemu tenaga medis, hingga mengalami fase "mati rasa" secara emosional.
Banyak dari mereka yang merasa kepribadiannya berubah total setelah melewati peristiwa tersebut.
Salah satu tantangan terberat bagi ibu yang mengalami trauma adalah adanya tekanan sosial untuk selalu terlihat bahagia dan bersyukur.
Sering kali, lingkungan sekitar menganggap kesehatan bayi sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan persalinan, sehingga perasaan terluka sang ibu terabaikan.
Padahal, secara psikologis, rasa syukur atas kehadiran bayi dan trauma akibat proses melahirkan bisa dirasakan secara bersamaan.