POLA JABAR - Hubungan antara obesitas dan peningkatan risiko berbagai jenis kanker bukanlah sekadar korelasi statistik, melainkan didasarkan pada serangkaian mekanisme biologis dan molekuler yang kompleks di dalam tubuh. Obesitas, yang didefinisikan sebagai akumulasi lemak tubuh berlebihan, menciptakan lingkungan internal yang secara fundamental berbeda dari tubuh dengan berat badan normal, mengubah keseimbangan hormon dan memicu peradangan kronis.
Salah satu jalur utama yang menghubungkan kelebihan berat badan dengan perkembangan tumor adalah melalui disregulasi metabolisme glukosa, yang berujung pada kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin dan akhirnya hiperinsulinemia (tingginya kadar insulin dalam darah).
Sel-sel lemak (adiposit) yang membesar pada individu obesitas melepaskan molekul-molekul tertentu yang mengganggu kemampuan sel tubuh untuk merespons insulin secara efektif. Sebagai respons kompensasi, pankreas dipaksa memproduksi insulin dalam jumlah yang jauh lebih besar, menyebabkan kadar insulin basal dalam darah meningkat drastis, sebuah kondisi berbahaya yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhan sel.
Kadar insulin yang tinggi, atau hiperinsulinemia, merupakan salah satu pendorong utama risiko kanker yang dipicu oleh obesitas. Insulin tidak hanya berfungsi sebagai regulator gula darah; ia juga merupakan hormon pertumbuhan yang kuat. Insulin berbagi jalur sinyal molekuler dengan Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1), sebuah hormon yang dikenal memiliki peran sentral dalam regulasi pertumbuhan dan proliferasi sel.
Ketika kadar insulin meningkat, reseptor insulin pada permukaan sel, termasuk sel-sel yang berpotensi menjadi kanker, diaktifkan secara berlebihan. Sinyal yang dikirimkan oleh aktivasi reseptor insulin dan IGF-1 ini kemudian mengaktifkan jalur sinyal intraseluler yang dikenal sebagai PI3K/AKT/mTOR.
Jalur sinyal PI3K/AKT/mTOR ini adalah master regulator pertumbuhan sel, pembelahan sel, dan pencegahan apoptosis (kematian sel terprogram). Oleh karena itu, stimulasi berlebihan oleh insulin menciptakan "lingkungan subur" bagi sel prakanker atau tumor untuk tumbuh, membelah diri tanpa kendali, dan menghindari penghancuran oleh sistem kekebalan tubuh.
Selain jalur sinyal hormon, inflamasi kronis yang diinduksi oleh jaringan lemak berlebih merupakan mekanisme biologis kritis lainnya yang menghubungkan obesitas dengan karsinogenesis.
Jaringan lemak yang membesar, terutama lemak visceral yang mengelilingi organ, bertindak sebagai organ endokrin yang disfungsional. Sel-sel lemak ini melepaskan sitokin pro-inflamasi, ke dalam aliran darah secara terus-menerus.
Kondisi peradangan sistemik tingkat rendah (low-grade chronic inflammation) ini secara terus-menerus merusak DNA sel dan menghambat mekanisme perbaikan sel, yang merupakan tahap awal penting dalam inisiasi kanker. Selain itu, jaringan lemak juga mempengaruhi produksi hormon seks.