POLA JABAR - Masalah kesehatan hati atau liver seringkali menjadi "silent killer" yang jarang disadari penderitanya. Di tengah tren gaya hidup sehat, buah anggur mendadak jadi sorotan bukan hanya karena rasanya yang menyegarkan, tetapi karena potensi medisnya yang luar biasa. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Liver International Journal, buah kecil ini menyimpan senyawa kompleks yang mampu mendukung proses detoksifikasi organ hati secara signifikan.

Lantas, bagaimana sebenarnya mekanisme kerja anggur dalam membersihkan racun di tubuh kita? Berikut adalah ulasan detailnya.

Salah satu alasan utama mengapa anggur sangat baik untuk hati adalah kandungan Resveratrol. Senyawa polifenol ini banyak ditemukan pada kulit anggur, terutama varietas berwarna merah dan ungu gelap.

Dalam ulasan ilmiah Liver International Journal, resveratrol diketahui memiliki kemampuan untuk menurunkan tingkat stres oksidatif pada sel-sel hati (hepatosit). Stres oksidatif adalah kondisi di mana jumlah radikal bebas dalam tubuh melebihi kapasitas netralisasi alami, yang jika dibiarkan, dapat memicu peradangan kronis hingga sirosis. Dengan mengonsumsi anggur, tubuh mendapatkan asupan "tentara" tambahan untuk melawan kerusakan sel tersebut.

Hati bekerja keras menyaring darah dan memecah racun melalui bantuan berbagai enzim. Namun, pola makan tinggi lemak dan paparan polutan seringkali membuat kinerja enzim ini terganggu.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ekstrak biji dan kulit anggur secara rutin dapat membantu menormalkan level enzim hati, seperti ALT (Alanine Aminotransferase) dan AST (Aspartate Aminotransferase). Level yang stabil pada kedua enzim ini merupakan indikator utama bahwa hati berada dalam kondisi sehat dan tidak sedang mengalami kerusakan struktural.

Penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD) kini menjadi ancaman nyata bagi masyarakat urban. Senyawa flavonoid dalam anggur bekerja dengan cara menghambat proses lipogenesis, yaitu pembentukan lemak baru di dalam hati.

Selain itu, anggur merangsang proses oksidasi asam lemak. Artinya, alih-alih menumpuk dan menyebabkan peradangan, lemak justru diubah menjadi energi. Ini adalah proses "detoksifikasi" dalam arti sebenarnya, di mana hati dibersihkan dari timbunan lemak yang menghambat fungsinya.

Peradangan adalah respons alami tubuh terhadap cedera, namun peradangan jangka panjang di hati adalah awal dari kegagalan organ. Kandungan proantosianidin dalam anggur terbukti secara klinis mampu menekan produksi sitokin pro-inflamasi. Dengan meredanya peradangan, jaringan hati memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan regenerasi sel secara mandiri.