POLA JABAR - Kelinci, meskipun sering dikira sejenis hewan pengerat, sesungguhnya termasuk dalam ordo Lagomorpha, sebuah klasifikasi yang memiliki keunikan biologis tersendiri, terutama dalam hal sistem pencernaannya. 

Berbeda dengan hewan ruminansia seperti sapi yang melakukan fermentasi di lambung depan, kelinci tergolong dalam hindgut fermenter hewan yang melakukan fermentasi utama di usus belakang, khususnya pada organ bernama sekum (cecum). 

Sekum pada kelinci merupakan kantong besar yang terletak di antara usus halus dan usus besar; ukurannya yang masif bahkan dapat menampung material makanan hingga sepuluh kali lebih banyak daripada kapasitas lambung kelinci itu sendiri. 

Organ ini bertindak seperti "pabrik" fermentasi alami, menampung miliaran mikroorganisme yang bertugas memecah serat kasar (selulosa) dari makanan seperti rumput dan jerami yang tidak dapat dicerna oleh enzim lambung atau usus halus. Inilah yang memungkinkan kelinci bertahan hidup hanya dengan mengandalkan hijauan sebagai sumber energi utama mereka.

Proses pencernaan yang panjang dan terperinci dimulai ketika makanan dikonsumsi. Kelinci adalah hewan yang makan dalam porsi kecil namun frekuensinya tinggi, mampu mengunyah dengan kecepatan luar biasa mencapai 120 kali per menit untuk memastikan serat dipotong menjadi partikel yang cukup kecil. 

Setelah makanan melewati lambung tunggal yang kuat dan usus halus tempat sebagian nutrisi mudah diserap, bahan yang tidak tercerna akan masuk ke usus besar. 

Di sinilah terjadi mekanisme seleksi yang cerdas yakni serat kasar yang berukuran besar akan dengan cepat didorong menuju kolon dan dikeluarkan sebagai feses keras yang kering, dikenal sebagai feses harian. Sebaliknya, serat yang berukuran lebih halus, termasuk protein dan karbohidrat yang mudah difermentasi, akan dialihkan ke sekum melalui proses kontraksi usus yang kompleks. 

Di dalam sekum inilah fermentasi berlangsung, menghasilkan asam lemak volatil yang menjadi sumber energi, serta memproduksi vitamin B kompleks dan asam amino (protein) esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kelinci.

Mekanisme paling unik dan krusial dari sistem pencernaan kelinci adalah proses yang dikenal sebagai seko-trofi. Setelah fermentasi di sekum selesai, mikroorganisme di dalamnya bersama dengan vitamin dan protein yang baru diproduksi akan dibungkus menjadi gumpalan feses lunak yang dibalut lapisan mukus, disebut sebagai sekotrof (cecotropes) atau yang sering keliru dianggap sebagai "feses malam." Berbeda dengan feses harian yang merupakan limbah, sekotrof ini adalah hasil pencernaan yang kaya nutrisi.