POLA JABAR - Fotografi arsitektur yang profesional dan estetik selalu menuntut akurasi dalam representasi geometri sebuah bangunan. Tantangan terbesarnya adalah mengendalikan dua jenis distorsi utama: distorsi lensa dan distorsi perspektif. 

Distorsi lensa, seperti efek barrel (garis lurus tampak melengkung ke luar) atau pincushion (garis lurus tampak melengkung ke dalam), seringkali muncul saat menggunakan lensa wide-angle atau zoom pada titik focal length tertentu. 

Sedangkan distorsi perspektif, yang paling umum dikenal sebagai converging verticals (garis vertikal bangunan tampak miring ke dalam atau menyempit di bagian atas), terjadi ketika kamera diarahkan miring ke atas untuk mencakup seluruh tinggi bangunan, dan inilah yang paling sering merusak tampilan foto arsitektur.

Mengatasi masalah geometri ini sangat penting, sebab dalam genre arsitektur, garis harus tetap lurus dan bidang harus sejajar. Dalam mengatasi distorsi lensa, langkah pertama dan termudah adalah dengan melakukan koreksi pada tahap pascaproduksi menggunakan perangkat lunak penyuntingan foto, di mana profil lensa kamera dapat diaplikasikan secara otomatis untuk menormalkan garis. 

Namun, untuk mengatasi distorsi perspektif yang jauh lebih sulit, fotografer profesional mengandalkan alat spesifik. Untuk hasil yang optimal di lapangan, alat terbaik yang disarankan menurut informasi dari ArchDaily.com. adalah Lensa Tilt Shift

Lensa khusus ini memungkinkan fotografer untuk secara mekanis menggeser (shift) bidang optik lensa paralel terhadap sensor kamera, sehingga garis vertikal bangunan dapat tetap tegak lurus meskipun kamera diarahkan lurus ke depan, tanpa perlu memiringkan kamera ke atas.

Bagi mereka yang tidak memiliki akses ke lensa tilt-shift yang mahal, solusi paling praktis adalah dengan menjaga bidang fokus kamera sejajar sempurna (parallel) dengan bidang vertikal subjek arsitektur. Ini berarti fotografer harus menempatkan kamera pada ketinggian yang kurang lebih sejajar dengan titik tengah (mata) bangunan yang difoto dan mengambil bidikan secara horizontal, tanpa memiringkan kamera sedikit pun. 

Untuk struktur yang sangat tinggi, pengambilan gambar harus dilakukan dari jarak yang cukup jauh agar seluruh bangunan masuk ke dalam frame tanpa perlu memiringkan kamera. 

Setelah foto diambil, setiap penyimpangan kecil pada perspektif atau distorsi garis vertikal yang tersisa dapat diperbaiki dengan akurasi tinggi menggunakan fitur koreksi perspektif (perspective correction) pada perangkat lunak pengolah foto seperti Adobe Photoshop atau Lightroom.