POLA JABAR - Kura-kura (termasuk penyu dan terrapin) telah lama menjadi subjek kekaguman dan penelitian karena kemampuan mereka untuk mencapai usia yang luar biasa, seringkali melampaui 100 tahun, bahkan ada yang tercatat hidup lebih dari 250 tahun. 

Fenomena ini, yang dikenal dalam biologi sebagai penuaan yang dapat diabaikan (negligible senescence) atau penuaan yang sangat lambat, menantang pemahaman konvensional kita tentang proses penuaan pada sebagian besar spesies vertebrata. Inti dari keajaiban biologis kura-kura ini terletak pada kombinasi unik antara karakteristik genetik, mekanisme perlindungan seluler, dan strategi fisiologis yang berevolusi selama jutaan tahun untuk memastikan kelangsungan hidup mereka di lingkungan yang keras. 

Penelitian mendalam, termasuk yang sering disorot oleh Scientific American, menunjukkan bahwa kunci umur panjang mereka bukanlah satu faktor tunggal, tetapi interaksi kompleks dari beberapa sistem.

Salah satu kunci utama yang paling sering dianalisis adalah metabolisme kura-kura yang sangat lambat dan efisien. Laju metabolisme yang rendah berarti kura-kura menghasilkan radikal bebas yang lebih sedikit per unit waktu dibandingkan hewan berdarah panas (mamalia) dengan ukuran yang sebanding. 

Radikal bebas adalah produk sampingan dari metabolisme yang dapat merusak DNA dan sel, sebuah proses yang dikenal sebagai stres oksidatif, dan merupakan penyebab utama penuaan seluler. 

Dengan laju pembakaran energi yang lambat, kura-kura secara inheren memiliki tingkat stres oksidatif yang rendah. Selain itu, kura-kura juga menunjukkan kemampuan perbaikan seluler dan DNA yang luar biasa efektif. 

Mekanisme genetik dan enzim yang dimiliki kura-kura secara efisien memperbaiki kerusakan yang terjadi, sehingga meminimalkan akumulasi kerusakan genetik yang biasanya mempercepat penuaan pada spesies lain. Kemampuan ini memungkinkan sel-sel dan organ-organ vital mereka berfungsi optimal dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.

Faktor pelindung lain yang berkontribusi signifikan terhadap ketahanan mereka adalah keberadaan karapas (cangkang) yang kokoh dan ikonik. Meskipun karapas terlihat sebagai mekanisme pertahanan fisik semata terhadap predator, secara tidak langsung ia berkontribusi pada umur panjang. 

Karapas menyediakan perlindungan yang hampir total, yang berarti kura-kura tidak perlu menghabiskan energi yang berharga untuk mekanisme pertahanan yang lebih aktif atau melarikan diri, sehingga energi tersebut dapat dialihkan untuk perbaikan dan pemeliharaan seluler daripada untuk pemulihan dari kerusakan fisik atau stres tinggi.