POLA JABAR - Konsep "Sugar Rush," atau ledakan energi mendadak dan hiperaktivitas yang diasumsikan terjadi setelah mengkonsumsi makanan atau minuman manis dalam jumlah besar, telah menjadi kepercayaan yang mengakar kuat dalam budaya populer dan parenting selama beberapa dekade.
Kepercayaan ini seringkali dikaitkan dengan anak-anak di pesta ulang tahun yang tiba-tiba menjadi sangat aktif setelah memakan kue dan permen, menimbulkan anggapan bahwa gula adalah stimulan kuat yang memicu kegelisahan dan peningkatan energi yang drastis.
Namun, dari sudut pandang ilmu psikologi dan neurosains, fenomena Sugar Rush ini sebagian besar hanyalah mitos yang didukung oleh ekspektasi psikologis dan faktor lingkungan, bukan respons biologis langsung terhadap gula.
Penelitian ilmiah ekstensif, termasuk yang diulas dan dirujuk oleh Scientific American, secara konsisten gagal menemukan hubungan sebab-akibat yang signifikan antara konsumsi gula murni dan peningkatan hiperaktivitas atau perubahan perilaku yang dramatis pada anak-anak maupun orang dewasa.
Penelitian paling meyakinkan yang membantah Sugar Rush berfokus pada studi double-blind dan placebo-controlled, di mana partisipan baik anak-anak maupun orang tua tidak mengetahui apakah subjek mengonsumsi gula asli atau pemanis buatan (plasebo).
Hasil dari studi-studi ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perilaku yang dapat diukur secara statistik, baik dalam hal tingkat aktivitas, fokus, atau kemampuan kognitif, antara kelompok yang mengkonsumsi gula dan kelompok yang mengkonsumsi plasebo. Ironisnya, studi psikologis yang melibatkan orang tua menunjukkan adanya efek ekspektasi yang kuat: orang tua yang diberitahu bahwa anak mereka baru saja mengkonsumsi minuman manis cenderung menilai perilaku anak mereka sebagai hiperaktif, terlepas dari apakah minuman itu benar-benar mengandung gula atau hanya pemanis buatan.
Ekspektasi ini, yang dikenal dalam psikologi sebagai efek nocebo atau bias konfirmasi, menciptakan ilusi hiperaktivitas ketika tidak ada perubahan biologis yang substansial.
Lantas, jika bukan gula, apa yang menjelaskan energi berlebihan pada anak-anak dalam situasi tertentu? Ilmu psikologi menunjukkan bahwa faktor situasional dan lingkungan jauh lebih berperan. Anak-anak yang mengonsumsi makanan manis seringkali berada dalam konteks perayaan atau pesta, di mana kegembiraan, interaksi sosial yang intens, waktu tidur yang berkurang, dan suasana yang bersemangatlah yang menjadi pemicu ledakan energi.
Selain itu, banyak makanan manis seperti cokelat dan minuman bersoda mengandung kafein dan stimulan lain yang memang memiliki efek nyata pada sistem saraf, berlawanan dengan gula murni. Meskipun gula (glukosa) memang merupakan sumber energi utama bagi otak, tubuh memiliki sistem yang sangat efisien melalui hormon seperti insulin untuk mengatur dan mendistribusikan energi tersebut secara bertahap dan terkontrol.