POLA JABAR - Dalam ranah komunikasi non-verbal dan psikologi ekspresi wajah, tidak semua senyuman diciptakan sama. Para ilmuwan secara fundamental membedakan antara senyum tulus, yang dikenal sebagai Senyum Duchenne, dan senyum palsu atau senyum sosial. 

Perbedaan krusial antara keduanya terletak pada aktivasi kelompok otot wajah yang terlibat, dan yang terpenting, otot-otot ini dikendalikan oleh bagian otak yang berbeda. 

Senyum palsu yang sering kita gunakan dalam situasi sosial, seperti saat bertemu orang asing atau berfoto hanya melibatkan otot-otot di sekitar mulut, yaitu otot zygomatic major.

Gerakan ini relatif mudah dikontrol secara sadar, karena diatur oleh korteks motorik di otak, wilayah yang mengendalikan gerakan yang disengaja. Namun, senyum jenis ini terasa kurang meyakinkan karena ia tidak memancarkan kehangatan emosional yang sejati.

Sebaliknya, Senyum Duchenne adalah representasi kebahagiaan yang autentik dan tak terpisahkan dari perasaan yang tulus. Dinamai dari ahli saraf Prancis abad ke-19, Guillaume Duchenne de Boulogne, senyum ini melibatkan dua set otot secara simultan: zygomatic major (yang menarik bibir ke atas) dan orbicularis oculi (otot yang mengelilingi mata). 

Aktivasi orbicularis oculi inilah yang menjadi kunci rahasia senyum tulen otot ini menyebabkan pipi terangkat, kelopak mata sedikit turun, dan menciptakan "kerutan tertawa" atau "kaki gagak" di sudut mata. Yang membuat Senyum Duchenne begitu istimewa adalah bahwa otot mata ini diyakini sangat sulit untuk dikendalikan secara sadar atau dipalsukan, karena diatur oleh sistem limbik, pusat emosi otak. 

Berdasarkan penelitian dan laporan yang diulas oleh BBC Future, Senyum Duchenne mengirimkan sinyal keaslian yang jauh lebih kuat, baik kepada penerima maupun kepada otak individu itu sendiri.

Kemampuan otak kita untuk secara naluriah membedakan senyum tulus dari senyum palsu memainkan peran vital dalam interaksi sosial dan membangun kepercayaan. 

Ketika kita melihat Senyum Duchenne yang autentik, ia mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan imbalan dan empati, membuat kita merasa lebih positif terhadap orang yang tersenyum.