POLA JABAR - Meskipun dalam bahasa sehari-hari sering disamakan, secara biologis, kura-kura (tortoise) dan penyu (sea turtle) adalah kelompok reptil dalam ordo Testudines yang memiliki perbedaan adaptasi, anatomi, dan habitat yang sangat jelas, hasil dari jalur evolusi yang berbeda.
Perbedaan antara keduanya paling mencolok terletak pada tempat mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya. Penyu adalah makhluk laut sejati (marine reptile), menghabiskan hampir seluruh hidupnya di lautan luas, hanya betina yang sesekali kembali ke daratan untuk bertelur di pantai. Sebaliknya, kura-kura secara eksklusif adalah satwa darat (terrestrial) yang beradaptasi untuk berjalan di permukaan yang keras.
Ada juga kelompok ketiga, yaitu labi-labi atau kura-kura air tawar (terrapin atau freshwater turtle), yang berada di tengah-tengah, menghabiskan waktu di perairan tawar seperti sungai dan danau, tetapi juga sering naik ke darat untuk berjemur.
Perbedaan habitat ini secara langsung mempengaruhi anatomi dan morfologi kedua jenis reptil ini, terutama pada bagian kaki dan tempurung. Kura-kura darat memiliki kaki yang tebal, pendek, dan berbentuk silinder menyerupai pilar atau gajah, dilengkapi dengan jari-jari yang kokoh dan cakar yang kuat.
Struktur kaki ini ideal untuk menopang berat badan yang besar dan membantu pergerakan di permukaan tanah yang tidak rata, tetapi sangat tidak efisien untuk berenang. Sebaliknya, penyu laut telah mengembangkan kaki depan yang panjang, pipih, dan besar, berfungsi menyerupai dayung (sirip). Kaki dayung ini memungkinkan mereka bergerak dengan cepat dan elegan di dalam air untuk bermigrasi jarak jauh, namun membuat mereka sangat canggung dan lambat ketika berada di darat, sebuah kesulitan yang hanya mereka hadapi saat bertelur.
Cangkang (carapace) juga menampilkan perbedaan adaptasi yang signifikan. Kura-kura darat memiliki cangkang yang umumnya tebal, berbentuk kubah tinggi, dan berat.
Desain cangkang berkubah ini memberikan perlindungan maksimal dari predator darat dan membantu mereka menarik seluruh kepala dan anggota tubuh ke dalam cangkang sebagai mekanisme pertahanan. Berlawanan dengan itu, penyu memiliki cangkang yang lebih ramping, pipih, dan streamline.
Bentuk datar dan hidrodinamis ini sangat penting untuk mengurangi hambatan (drag) saat berenang di air, memungkinkan penyu bergerak cepat menembus kolom air. Karena kebutuhan akan kecepatan dan efisiensi di lautan, penyu juga tidak mampu menarik kepala atau siripnya sepenuhnya ke dalam cangkang, sebuah fakta adaptif yang didokumentasikan oleh peneliti dan ahli biologi laut sebagaimana yang sering dikutip oleh National Geographic.
Selain ciri fisik, pola makan dan fisiologi internal penyu dan kura-kura juga berbeda. Kura-kura darat cenderung herbivora, memakan rumput, daun, buah, dan kaktus. Mereka memiliki sistem ginjal yang beradaptasi untuk mengelola kadar air di lingkungan yang sering kering.