POLA JABAR - Dalam beberapa tahun terakhir, tren gaya hidup sehat menempatkan kacang almond sebagai salah satu "superfood" yang paling dicari. Namun, di tengah membanjirnya informasi nutrisi, muncul pertanyaan penting: Apakah almond benar-benar cocok untuk pola makan seimbang bagi semua orang?
Merujuk pada panduan pola makan sehat yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kacang-kacangan, termasuk almond, merupakan komponen esensial dalam mencegah berbagai penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker.
Sumber Lemak Tak Jenuh yang Direkomendasikan
Salah satu pilar pola makan sehat menurut WHO adalah membatasi asupan lemak jenuh dan menggantinya dengan lemak tak jenuh. Almond adalah juara dalam kategori ini. Sebagian besar lemak dalam almond adalah lemak tak jenuh tunggal yang berfungsi menjaga kadar kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kolesterol jahat (LDL).
WHO menekankan bahwa total asupan lemak tidak boleh melebihi 30% dari total energi harian untuk mencegah kenaikan berat badan yang tidak sehat. Dalam konteks ini, almond memberikan kepadatan nutrisi yang tinggi, sehingga Anda merasa kenyang lebih lama dengan porsi yang relatif kecil.
Pembangkit Energi dari Serat dan Protein Nabati
Pola makan seimbang mensyaratkan asupan serat yang cukup, yakni minimal 400 gram buah dan sayuran per hari, di mana kacang-kacangan termasuk di dalamnya. Almond mengandung serat pangan yang sangat baik untuk menjaga kesehatan mikrobiota usus dan mengatur pelepasan gula darah secara perlahan.
Bagi mereka yang menjalankan pola makan berbasis tanaman (plant-based), almond menjadi sumber protein nabati yang krusial. Protein ini berfungsi memperbaiki jaringan tubuh dan mendukung sistem imun, yang menjadi fokus utama kesehatan global pasca-pandemi.
Perlindungan Antioksidan dan Mikronutrien