POLA JABAR - Di tengah cuaca tropis yang menyengat, segelas air es saat makan siang terasa seperti nikmat yang tak tergantikan. Namun, dibalik kesegarannya, terselip sebuah peringatan yang sering kita dengar dari orang tua: "Jangan minum air dingin, nanti pencernaanmu melambat dan lemak jadi membeku."

Pertanyaannya, apakah klaim tersebut memiliki dasar ilmiah atau hanya sekadar mitos turun-temurun?

Bagaimana Tubuh Merespons Suhu Dingin? Menurut pakar kesehatan dari Cleveland Clinic, tubuh manusia adalah mesin yang sangat canggih dalam menjaga suhu internalnya (homeostatis). Saat Anda meminum air dingin, tubuh tidak lantas membiarkan sistem pencernaan "membeku". Sebaliknya, tubuh akan bekerja ekstra untuk menghangatkan cairan tersebut hingga sesuai dengan suhu internal tubuh, yaitu sekitar 37 derajat Celcius.

Proses penyesuaian suhu ini memang membutuhkan energi, namun secara ilmiah tidak ada bukti kuat yang menyatakan bahwa air dingin secara drastis menghentikan atau menghambat proses pemecahan makanan dalam lambung.

Salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat adalah anggapan bahwa air dingin akan mengeraskan lemak dari makanan yang baru saja disantap, sehingga sulit diserap tubuh. Fakta medis menunjukkan bahwa proses pencernaan melibatkan zat asam lambung dan enzim yang sangat kuat. 

Lemak akan tetap diolah menjadi molekul yang lebih kecil terlepas dari suhu air yang Anda minum. Jadi, ide bahwa lemak akan langsung menggumpal seperti lilin di dalam perut adalah sebuah kekeliruan anatomi.

Kapan Air Dingin Menjadi Masalah? Meskipun secara umum aman, air dingin bisa menjadi tantangan bagi kelompok orang tertentu. Bagi penderita achalasia kondisi medis di mana kerongkongan sulit menyalurkan makanan ke lambung minum air dingin dapat memperparah rasa nyeri dan membuat proses menelan menjadi lebih sulit.

Selain itu, bagi pemilik perut sensitif, suhu yang terlalu ekstrem (terlalu panas atau terlalu dingin) dapat menyebabkan kontraksi otot lambung yang memicu rasa mulas atau begah. Dalam kondisi ini, air dengan suhu ruang atau hangat kuku seringkali menjadi pilihan yang lebih bijak untuk kenyamanan kontraksi otot pencernaan.

Kesimpulan: Mana yang Lebih Baik? Hal terpenting yang ditekankan oleh para ahli bukanlah soal suhu airnya, melainkan jumlah hidrasinya. Tubuh yang terhidrasi dengan cukup jauh lebih penting untuk kelancaran pencernaan dibandingkan memperdebatkan suhu air minum. Air membantu memecah makanan sehingga nutrisi dapat diserap secara optimal dan mencegah sembelit.