POLA JABAR - Di belantara hutan Sumatra dan pegunungan Jawa, kisah tentang manusia yang mampu bersalin rupa menjadi harimau bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur.
Fenomena ini, yang sering disebut sebagai Harimau Jadian atau Cindaku, merupakan bagian integral dari sistem kepercayaan lokal yang sangat kompleks.
Berdasarkan tinjauan dalam Ethnographic Studies Review, fenomena ini bukan sekadar takhayul, melainkan manifestasi dari kontrak sosial antara manusia, alam, dan leluhur.
Dalam kajian etnografi, harimau tidak hanya dipandang sebagai predator puncak, tetapi juga sebagai "Polisi Hutan" atau penjaga moralitas masyarakat.
Dukun atau tokoh adat yang diyakini memiliki ilmu penjelmaan biasanya dianggap memiliki mandat untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Transformasi Identitas: Proses perubahan wujud (metamorfosis) ini sering kali dikaitkan dengan penguasaan ilmu batin tingkat tinggi.
Penjaga Perbatasan: Harimau penjelmaan dipercaya muncul saat terjadi pelanggaran adat atau kerusakan hutan yang dilakukan oleh manusia.
Relasi Dukun dan Harimau dalam Struktur Sosial
Mengapa dukun? Dalam struktur masyarakat tradisional, dukun adalah perantara antara dunia nyata dan dunia gaib. Penjelmaan menjadi harimau dianggap sebagai bentuk proteksi diri maupun komunitas. Berbeda dengan citra "werwolf" di Barat yang cenderung destruktif, harimau penjelmaan di Nusantara sering kali bersifat protektif.