POLA JABAR - Selama berabad-abad, mawar biru dianggap sebagai simbol dari sesuatu yang mustahil dicapai, misterius, dan penuh keajaiban. Dalam sastra dan seni, bunga ini sering muncul sebagai representasi cinta yang tak sampai atau impian yang tak tergapai. Namun, jika kita melangkah ke toko bunga hari ini, tak jarang kita melihat kelopak berwarna biru cerah bersandar di antara mawar merah dan putih.

Pertanyaannya: Apakah mawar biru benar-benar ada secara alami di alam semesta kita?

Menurut penjelasan dari BBC Science Focus, secara teknis mawar biru yang tumbuh secara alami itu tidak ada. Alasannya terletak pada keterbatasan genetik yang sangat mendasar. Mawar kekurangan pigmen spesifik yang disebut delphinidin.

Pigmen inilah yang memberikan warna biru pada bunga-bunga seperti delphinium atau hydrangea. Tanpa gen yang mampu memproduksi pigmen ini, mawar hanya mampu menghasilkan spektrum warna merah, merah muda, kuning, dan putih. Meski ada mawar yang terlihat sedikit keunguan atau "lavender", itu sebenarnya hanyalah variasi pekat dari pigmen merah, bukan biru murni.

Karena permintaan pasar yang sangat tinggi, para ilmuwan tidak tinggal diam. Pada tahun 2004, sebuah perusahaan Jepang bernama Suntory, bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi Australia, Florigene, berhasil menciptakan mawar biru pertama di dunia melalui rekayasa genetika.

Proses ini sangat rumit dan memakan waktu bertahun-tahun. Para peneliti memasukkan gen dari bunga petunia dan bunga pansy ke dalam mawar untuk memicu produksi delphinidin. Hasilnya adalah mawar yang memiliki rona warna ungu kebiruan atau mauve. Meskipun secara teknis mengandung pigmen biru, secara visual bunga ini masih terlihat lebih dekat ke warna lilac daripada biru langit yang pekat.

Lantas, bagaimana dengan mawar biru elektrik yang sering kita lihat di media sosial atau toko bunga premium? Mayoritas mawar biru yang beredar di pasaran saat ini bukanlah hasil rekayasa genetik, melainkan hasil dari proses pewarnaan.

Metode yang paling umum adalah dengan merendam batang mawar putih ke dalam larutan pewarna khusus. Melalui proses kapilaritas, bunga akan menyerap cairan tersebut hingga ke kelopaknya, mengubah warnanya menjadi biru cerah yang dramatis. Metode lainnya adalah dengan menyemprotkan pewarna floral langsung ke permukaan kelopak.

Dalam dunia botani, mawar biru tetap menjadi "Holy Grail" atau cawan suci yang terus dikejar. Para ilmuwan kini tengah mengeksplorasi cara untuk mengubah tingkat keasaman (pH) di dalam sel kelopak mawar. Hal ini dilakukan karena pigmen biru sangat sensitif terhadap pH; jika kondisi sel terlalu asam, warna biru akan berubah kembali menjadi kemerahan.