POLA JABAR - Fenomena ketergantungan gula sering diperdebatkan di kalangan ilmuwan, namun perspektif psikologi dan nutrisi semakin menguatkan argumen bahwa gula memiliki kekuatan untuk memicu respons di otak yang sangat mirip dengan perilaku adiktif. 

Dari sudut pandang psikologi, konsumsi gula secara rutin dan berlebihan seringkali dikaitkan dengan emotional eating sebuah pola di mana individu mencari makanan manis sebagai cara cepat untuk mengatasi atau mengubah suasana hati negatif, seperti stres, kecemasan, atau kesedihan. 

Perilaku ini menciptakan siklus umpan balik yang berbahaya: rasa manis yang dikonsumsi memberikan sensasi kenikmatan instan, yang kemudian dipelajari oleh otak sebagai mekanisme koping yang efektif. 

Sayangnya, efek kebahagiaan ini berumur pendek, sering diikuti oleh penurunan energi (sugar crash) dan perasaan bersalah, yang justru memicu kebutuhan akan dosis gula berikutnya untuk memulihkan mood, sehingga mengunci individu dalam jerat ketergantungan psikologis yang sulit diputus.

Dari sisi biologis, yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian neurologi, efek gula pada otak sangatlah nyata, melibatkan aktivasi sistem reward (imbalan) yang kuat. Ketika gula memasuki aliran darah, terutama dalam jumlah besar seperti yang ditemukan pada makanan olahan, ia memicu pelepasan neurotransmiter dopamin di area otak yang dikenal sebagai nucleus accumbens

Area ini adalah inti dari sistem reward otak, yang bertanggung jawab atas motivasi, kesenangan, dan reinforcement (penguatan perilaku). Sensasi dopamin ini menciptakan rasa euforia dan kebahagiaan yang cepat dan intens, yang secara fundamental mengajarkan otak untuk mengulang perilaku konsumsi gula tersebut. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa pola aktivasi dopamin yang dihasilkan oleh gula menunjukkan kesamaan fungsional dengan respons yang dihasilkan oleh zat adiktif. 

Mekanisme ini menjelaskan mengapa nafsu makan terhadap makanan manis bisa terasa begitu mendesak dan sulit diabaikan, bahkan ketika seseorang sadar akan konsekuensi negatifnya terhadap kesehatan.

Perdebatan mengenai apakah ketergantungan gula memenuhi semua kriteria adiksi klinis mungkin masih berlangsung, namun dampaknya pada nutrisi dan kesejahteraan mental tidak dapat diabaikan. Dari perspektif nutrisi, ketergantungan ini memaksa seseorang untuk terus-menerus memilih makanan yang padat kalori namun minim nutrisi esensial (nutrient-poor). 

Konsumsi gula berlebihan secara kronis menyebabkan fluktuasi tajam pada kadar gula darah (glukosa), yang tidak hanya memicu masalah kesehatan fisik seperti resistensi insulin dan obesitas, tetapi juga memperburuk kondisi psikologis. Fluktuasi glukosa ini dikaitkan dengan perubahan suasana hati yang drastis, peningkatan iritabilitas, kesulitan berkonsentrasi, dan memperburuk gejala kecemasan.