POLA JABAR - Di tengah isu krisis lahan dan kelangkaan sumber air bersih, sektor perikanan dituntut untuk berinovasi. Salah satu terobosan yang kini menjadi sorotan dunia, termasuk dalam laporan FAO Fisheries, adalah teknologi bioflok. Bukan sekadar tren, sistem ini merupakan solusi akuakultur cerdas yang mampu menjawab tantangan ekonomi sekaligus kelestarian lingkungan.

Apa Itu Sistem Bioflok Sebenarnya?

Secara sederhana, bioflok berasal dari kata bios (kehidupan) dan floc (gumpalan). Teknologi ini bekerja dengan cara menumbuhkan komunitas mikroorganisme seperti bakteri heterotrof, alga, dan jamur di dalam kolam budidaya. Mikroba-mikroba ini membentuk gumpalan kecil (flok) yang bertugas mengolah limbah organik, seperti sisa pakan dan kotoran ikan, menjadi gumpalan protein yang bisa dimakan kembali oleh lele.

Bayangkan sebuah ekosistem mandiri di mana limbah tidak lagi menjadi polutan, melainkan berubah menjadi sumber nutrisi tambahan. Inilah inti dari efisiensi yang ditawarkan oleh metode modern ini.

Keunggulan Bioflok yang Diakui Secara Internasional

Berdasarkan data dan praktik lapangan yang juga didorong oleh organisasi pangan dunia, ada beberapa alasan kuat mengapa sistem ini dianggap lebih unggul dibandingkan metode konvensional:

1. Efisiensi Pakan yang Luar Biasa 

Dalam budidaya lele biasa, biaya pakan seringkali menyerap hingga 70% dari total modal. Dengan bioflok, angka Feed Conversion Ratio (FCR) bisa ditekan secara drastis. Karena lele bisa memakan flok yang terbentuk di dalam air, penggunaan pelet pabrikan dapat dikurangi sekitar 20% hingga 30%.

2. Hemat Lahan dan Air