POLA JABAR - Menjaga hidrasi adalah kunci utama kesehatan, namun seringkali kita melupakan satu detail penting: suhu air yang kita minum. Perdebatan mengenai lebih baik mana antara air dingin dan air hangat bagi kesehatan lambung telah menjadi topik yang hangat di masyarakat.
Berdasarkan tinjauan medis dan literatur kesehatan dari sumber seperti Healthline, suhu air ternyata memiliki pengaruh mekanis terhadap cara lambung kita bekerja.
Efek Air Dingin pada Proses Pencernaan
Bagi banyak orang, segelas air es saat cuaca panas terasa sangat menyegarkan. Namun, bagi lambung, air dingin bisa memberikan efek kejutan. Ketika air dengan suhu rendah masuk ke dalam sistem pencernaan, pembuluh darah di sekitar lambung cenderung menyempit (vasokonstriksi).
Penyempitan ini secara teoritis dapat menghambat proses penyerapan nutrisi karena aliran darah yang menuju organ pencernaan menjadi kurang optimal.
Selain itu, suhu dingin yang ekstrem dapat mengeraskan lemak dari makanan yang baru saja dikonsumsi, sehingga lambung harus bekerja ekstra keras untuk memecah zat-zat tersebut.
Bagi pemilik lambung sensitif, air dingin terkadang dapat memicu kontraksi otot yang menimbulkan rasa tidak nyaman atau kram ringan.
Manfaat Air Hangat untuk Keseimbangan Lambung
Di sisi lain, mengonsumsi air hangat atau air dengan suhu ruang sering kali dianggap lebih selaras dengan suhu internal tubuh manusia yang berada di kisaran 37 derajat C. Air hangat membantu merelaksasi otot-otot lambung dan memperlebar pembuluh darah, yang secara langsung mempercepat proses metabolisme dan pembuangan sisa makanan.