POLA JABAR - Selama ini, banyak dari kita terjebak dalam persepsi bahwa semakin tinggi dosis Vitamin C yang dikonsumsi, maka semakin kuat pula daya tahan tubuh kita. Tak heran jika suplemen dosis tinggi hingga 1000mg laku keras di pasaran. Namun, benarkah tubuh kita memerlukan sebanyak itu setiap hari?
Merujuk pada data dari Food and Agriculture Organization (FAO) yang bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebutuhan Vitamin C ternyata jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan. Memahami angka-angka ini bukan sekadar soal kesehatan, tapi juga soal efisiensi tubuh dalam menyerap nutrisi.
Mengapa Harus Mengikuti Standar FAO?
FAO bukan sekadar organisasi pangan biasa. Rekomendasi yang mereka keluarkan didasarkan pada riset mendalam terhadap berbagai populasi di seluruh dunia. Tujuannya jelas: memastikan setiap individu mendapatkan asupan yang cukup untuk mencegah penyakit seperti sariawan kronis (skurvi) tanpa memberikan beban berlebih pada organ ekskresi seperti ginjal.
Vitamin C adalah jenis vitamin larut air. Artinya, tubuh tidak bisa menyimpannya dalam waktu lama. Jika Anda mengonsumsi terlalu banyak, tubuh akan langsung membuang sisanya melalui urine. Di sinilah standar FAO berperan untuk memberi tahu kita batas optimal penyerapan tubuh.
Rincian Kebutuhan Vitamin C Berdasarkan Kelompok Usia
Berdasarkan pedoman global, kebutuhan Vitamin C harian tidak dipukul rata. Ada perbedaan signifikan tergantung pada usia, kondisi fisik, hingga gaya hidup. Berikut adalah rinciannya:
Bayi dan Anak-anak: Untuk bayi usia 0-12 bulan, asupan utamanya berasal dari ASI, namun secara umum kebutuhannya berkisar di angka 25-30 mg per hari. Seiring bertambahnya usia hingga remaja, angka ini naik secara bertahap menuju 40-50 mg.
Dewasa Laki-laki dan Perempuan: Secara mengejutkan, FAO merekomendasikan dosis sekitar 45 mg per hari untuk menjaga kesehatan jaringan tubuh dan sistem imun pada orang dewasa sehat. Angka ini jauh di bawah "tren" suplemen 1000mg yang sering kita temui.