POLA JABAR - Selama satu dekade terakhir, tren penggunaan rokok elektrik atau vape telah bergeser dari sekadar alternatif berhenti merokok menjadi gaya hidup global. Daya tarik utamanya terletak pada ribuan variasi rasa mulai dari buah-buahan tropis, makanan pencuci mulut, hingga aroma mentol yang menyegarkan.
Namun, di balik awan uap yang harum tersebut, para peneliti di bidang toksikologi mulai menemukan bukti-bukti mengkhawatirkan mengenai dampak zat perasa terhadap kesehatan seluler manusia.
Berdasarkan laporan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Chemical Research in Toxicology, zat perasa yang digunakan dalam liquid vape ternyata memiliki profil risiko yang jauh lebih kompleks daripada sekadar bahan tambahan pangan biasa.
Salah satu miskonsepsi terbesar di kalangan pengguna vape adalah anggapan bahwa jika suatu zat perasa dikategorikan sebagai food grade (aman dikonsumsi), maka zat tersebut otomatis aman untuk dihirup. Namun, sistem pencernaan dan sistem pernapasan manusia bekerja dengan cara yang sangat berbeda.
Zat kimia seperti diacetyl, yang memberikan rasa mentega (buttery), mungkin aman saat melewati asam lambung. Namun, ketika dipanaskan oleh koil vape dan dihirup ke dalam alveoli paru-paru, zat ini dapat memicu reaksi inflamasi hebat. Proses pemanasan ini mengubah struktur molekul zat perasa, menciptakan produk sampingan berupa radikal bebas yang bersifat sitotoksik atau merusak sel.
Penelitian toksikologi menunjukkan bahwa paparan uap yang mengandung zat perasa tertentu dapat menurunkan viabilitas sel-sel paru secara signifikan. Zat perasa seperti cinnamaldehyde (rasa kayu manis), benzaldehyde (rasa ceri atau kacang), dan vanillin (rasa vanila) telah teridentifikasi memiliki tingkat toksisitas yang tinggi.
Dalam uji laboratorium, sel epitel paru-paru yang terpapar uap perasa ini menunjukkan tanda-tanda stres oksidatif. Stres oksidatif terjadi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh tidak sebanding dengan antioksidan, yang pada akhirnya memicu kerusakan DNA dan kematian sel prematur. Inilah yang menjadi cikal bakal berbagai penyakit paru obstruktif kronis di masa depan.
Vape bekerja dengan memanaskan cairan hingga suhu yang cukup tinggi untuk menciptakan aerosol. Penelitian dalam Chemical Research in Toxicology menyoroti bahwa suhu perangkat vape sangat mempengaruhi tingkat toksisitas. Proses termal ini memicu reaksi kimia antara pelarut (propilen glikol dan gliserin) dengan molekul perasa.
Hasilnya adalah terbentuknya senyawa karbonil baru seperti formaldehida dan akrolein, yang dikenal bersifat karsinogenik dan iritan kuat. Artinya, semakin kompleks rasa sebuah liquid vape, semakin banyak pula potensi interaksi kimia berbahaya yang terjadi saat tombol "fire" ditekan.