POLA JABAR - Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana seekor kura-kura bisa menghabiskan waktu yang begitu lama di bawah air, bahkan saat mereka tidak sedang hibernasi? Jawabannya terletak pada sistem pernapasan mereka yang benar-benar unik dan berbeda jauh dari mamalia seperti kita. 

Kita, manusia, mengandalkan otot diafragma yang bergerak ke bawah untuk menarik udara ke paru-paru dan bergerak ke atas untuk mengeluarkannya. Proses ini tampak sederhana dan efisien, tetapi kura-kura menghadapi tantangan besar karena memiliki tempurung yang kaku dan tidak fleksibel sebuah "kotak" tulang yang secara fisik menghalangi pengembangan dada seperti yang kita lakukan. 

Bayangkan mencoba bernapas dengan mengenakan rompi baja yang tidak bisa digerakkan; itulah masalah mendasar kura-kura. Untuk mengatasi keterbatasan ini, evolusi telah memberikan kura-kura solusi yang cerdik dan kompleks, melibatkan penggunaan otot-otot internal yang tidak biasa untuk memompa udara, menjadikannya salah satu keajaiban biologis yang terus dipelajari oleh para ilmuwan. Keunikan ini bukan sekadar adaptasi, tetapi sebuah bukti kecerdasan alam dalam menyelesaikan masalah desain yang tampaknya mustahil.

Sistem pernapasan unik ini menjadi fokus utama dalam berbagai penelitian, salah satunya yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Scientific Reports. Studi-studi ini berusaha memecahkan kode bagaimana mekanisme pertukaran udara terjadi tanpa adanya diafragma yang berfungsi penuh, dan temuan yang muncul sangatlah menarik. 

Secara garis besar, kura-kura mengandalkan dua pasang otot yang terletak di dalam tempurung. Pasangan otot pertama berfungsi seperti "pompa" untuk menarik napas (inspirasi), menarik organ internal ke belakang dan meningkatkan volume paru-paru sehingga udara masuk. 

Sementara itu, pasangan otot kedua bekerja untuk mengembuskan napas (ekspirasi), mendorong organ-organ internal kembali ke depan dan menekan paru-paru, memaksa udara keluar. Jadi, alih-alih menggerakkan tempurung, kura-kura menggerakkan organ-organ di dalamnya untuk mengubah volume ruang di sekitar paru-paru. 

Mekanisme "pompa organ" ini memungkinkan mereka untuk bernapas secara efektif di darat dan juga menjadi dasar bagi adaptasi luar biasa mereka saat berada di air, termasuk kemampuan beberapa jenis kura-kura untuk melakukan pertukaran gas melalui kulit atau bahkan di sekitar kloaka (anus).

Selain mekanisme "pompa organ" ini, studi tersebut juga menyoroti aspek lain yang membuat kura-kura menjadi ahli dalam manajemen oksigen. Adaptasi ini sangat penting karena kura-kura sering kali harus bertahan dalam kondisi hipoksia (kekurangan oksigen) untuk waktu yang lama, terutama saat mereka menyelam atau tertimbun dalam lumpur. 

Salah satu kunci keberhasilan mereka adalah kemampuan mengubah laju metabolisme secara drastis. Saat oksigen terbatas, mereka bisa memperlambat semua fungsi tubuh mereka, mengurangi kebutuhan energi dan, oleh karena itu, mengurangi permintaan oksigen.