POLA JABAR - Dalam dunia olahraga profesional, setiap detikan napas sangatlah berharga. Efisiensi sistem pernapasan menjadi kunci utama bagi seorang atlet untuk mempertahankan performa di level tertinggi. Namun, beberapa tahun terakhir, tren penggunaan rokok elektrik atau vape mulai merambah ke dunia atlet, sering kali didorong oleh miskonsepsi bahwa perangkat ini jauh lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Padahal, studi terbaru yang diulas dalam Journal of Sports Sciences memberikan peringatan keras mengenai dampak negatif aerosol vape terhadap sistem kardiorespirasi.

Bagi seorang atlet, daya tahan paru bukan sekadar kapasitas menghirup udara, melainkan kemampuan sistem pernapasan untuk mentransfer oksigen ke dalam aliran darah secara cepat. Paparan zat kimia dalam vape ternyata mengganggu proses vital ini dengan cara yang cukup sistematis.

Gangguan pada Saluran Napas dan Resistensi Udara

Salah satu temuan signifikan dalam penelitian olahraga adalah peningkatan resistensi saluran napas setelah penggunaan vape. Cairan vape yang dipanaskan mengandung propilen glikol dan gliserin nabati yang, meskipun dinyatakan aman untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan, dapat memicu iritasi akut saat masuk ke paru-paru dalam bentuk uap.

Iritasi ini menyebabkan penyempitan saluran udara kecil (bronkiolus) yang berakibat pada penurunan forced expiratory volume atau volume udara yang dapat diembuskan dengan kuat dalam satu detik. Bagi pelari jarak jauh atau pemain sepak bola, gangguan sekecil apa pun pada saluran napas berarti jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa oksigen, yang berujung pada kelelahan prematur.

Penurunan Kapasitas VO2 Max

VO2 max adalah indikator utama kebugaran aerobik seorang atlet. Penggunaan vape yang mengandung nikotin dapat menyebabkan vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah. Ketika pembuluh darah menyempit, distribusi oksigen ke otot-otot yang sedang bekerja menjadi terhambat.

Studi dalam Journal of Sports Sciences menggarisbawahi bahwa atlet yang menggunakan vape cenderung menunjukkan penurunan ambang batas anaerobik. Hal ini berarti tubuh mereka lebih cepat memproduksi asam laktat, yang secara otomatis menurunkan daya tahan selama sesi latihan intensitas tinggi. Alih-alih mendapatkan performa maksimal, atlet justru berisiko mengalami penurunan kapasitas fisik secara bertahap.

Risiko Peradangan Jaringan Paru (Stres Oksidatif)