POLA JABAR - Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang kita hadapi hari ini. Meningkatnya konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer menuntut kita untuk mencari solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan secara ekologis. Salah satu jawaban yang kini menjadi sorotan dunia ilmiah adalah budidaya rumput laut atau makroalga.
Berdasarkan riset yang diterbitkan dalam jurnal Marine Policy, rumput laut memiliki potensi luar biasa sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang efisien. Tidak seperti tanaman darat, rumput laut tumbuh dengan kecepatan yang mengagumkan dan tidak memerlukan lahan subur, pupuk kimia, maupun air tawar.
Bagaimana Rumput Laut Mengurangi Dampak Perubahan Iklim?
1. Penyerapan Karbon yang Masif
Rumput laut menyerap CO2 dari air laut melalui proses fotosintesis. Sebagian besar biomassa ini kemudian dapat dipanen untuk berbagai industri, sementara sebagian lainnya tenggelam ke dasar laut dalam, mengunci karbon selama ratusan hingga ribuan tahun. Fenomena ini dikenal sebagai pengasingan karbon biru (Blue Carbon sequestration).
2. Mitigasi Asam Air Laut
Peningkatan CO2 menyebabkan laut menjadi lebih asam, yang mengancam kehidupan terumbu karang dan kerang-kerangan. Dengan menyerap karbon, budidaya rumput laut secara lokal mampu menyeimbangkan tingkat pH air laut, menciptakan "benteng perlindungan" bagi ekosistem di sekitarnya.
3. Substitusi Produk Ramah Lingkungan
Hasil panen rumput laut dapat diolah menjadi bioplastik, biofuel, hingga pakan ternak. Penggunaan rumput laut dalam pakan sapi, misalnya, terbukti secara signifikan mengurangi emisi metana gas rumah kaca yang jauh lebih berbahaya daripada CO2 dari pencernaan ternak.