POLA JABAR - Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan mengenai keamanan rokok elektrik atau vaping terus bergulir. Sebagian besar perhatian publik tertuju pada kesehatan paru-paru dan jantung. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Endocrinology Journal mulai mengungkap sisi gelap lain yang jarang dibahas: dampak destruktif vaping terhadap sistem endokrin atau keseimbangan hormon manusia.
Sistem endokrin adalah jaringan kelenjar yang memproduksi hormon untuk mengatur hampir seluruh fungsi tubuh, mulai dari metabolisme, pertumbuhan, hingga fungsi reproduksi. Gangguan sekecil apa pun pada sistem ini dapat memicu rantai masalah kesehatan yang kompleks.
Salah satu temuan utama dalam riset endokrinologi menunjukkan bahwa paparan nikotin cair melalui vaping memicu respons stres yang berlebihan pada kelenjar adrenal. Saat uap terhirup, tubuh melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) secara mendadak.
Jika paparan ini terjadi secara kronis, tubuh akan mengalami kondisi stres oksidatif yang terus-menerus. Hal ini mengganggu sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA), yang merupakan pusat kendali stres tubuh. Akibatnya, pengguna vaping berisiko mengalami ketidakseimbangan kortisol yang dapat memicu kelelahan kronis, gangguan tidur, hingga masalah metabolisme gula darah.
Studi dalam Endocrinology Journal memberikan peringatan keras mengenai dampak vaping terhadap kesehatan reproduksi, baik pada pria maupun wanita. Pada pria, paparan zat kimia dalam e-liquid diketahui dapat menurunkan kadar testosteron. Penurunan ini tidak hanya memengaruhi gairah seksual, tetapi juga kualitas dan kuantitas sperma.
Pada wanita, gangguan hormonal akibat vaping jauh lebih kompleks. Zat kimia seperti formaldehida dan logam berat yang ditemukan dalam uap vape dapat mengganggu siklus menstruasi dan fungsi ovarium. Penelitian menunjukkan adanya korelasi antara vaping dengan penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron, yang merupakan elemen kunci dalam menjaga kesuburan dan keberhasilan kehamilan.
Kelenjar tiroid berperan sebagai pengatur metabolisme tubuh. Gangguan pada kelenjar ini dapat menyebabkan seseorang merasa lesu (hipotiroidisme) atau justru mengalami kecemasan berlebih (hipertiroidisme). Riset menunjukkan bahwa bahan tambahan dalam cairan vape dapat bersifat sebagai endocrine disruptors (pengganggu endokrin) yang menghambat penyerapan yodium oleh tiroid.
Ketidakseimbangan hormon tiroid ini sering kali tidak disadari oleh pengguna vape karena gejalanya yang samar, seperti perubahan berat badan yang drastis, kulit kering, atau perubahan suasana hati (mood swings) yang tidak stabil.
Selain hormon reproduksi dan tiroid, vaping juga disinyalir memengaruhi kerja hormon insulin. Nikotin diketahui dapat menurunkan sensitivitas sel terhadap insulin. Ketika tubuh menjadi resisten terhadap insulin, kadar gula darah akan sulit terkendali. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko diabetes tipe 2, meskipun pengguna tidak memiliki riwayat keluarga atau obesitas. Hal ini mematahkan anggapan bahwa vaping "lebih aman" daripada rokok konvensional dalam konteks kesehatan metabolisme.