POLA JABAR - Selama beberapa tahun terakhir, persepsi publik mengenai rokok elektrik atau vaping sering kali terjebak pada narasi bahwa produk ini jauh lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Namun, data klinis yang dipublikasikan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine (AJRCCM) mulai menyibak tabir yang lebih gelap. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa vaping bukan sekadar aktivitas menghirup uap air beraroma, melainkan pemicu perubahan biologis yang signifikan pada paru-paru, terutama terkait respon inflamasi.

Respon inflamasi atau peradangan sebenarnya adalah mekanisme pertahanan alami tubuh. Namun, ketika dipicu secara terus-menerus oleh zat asing dari uap elektrik, mekanisme ini justru berubah menjadi senjata yang merusak jaringan paru-paru itu sendiri.

Gangguan Homeostasis Seluler dan Aktivasi Protein

Berdasarkan laporan penelitian dalam AJRCCM, paparan aerosol dari rokok elektrik secara langsung mengganggu keseimbangan atau homeostasis sel epitel paru. Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah peningkatan kadar protein protease di saluran napas. Protease adalah enzim yang, dalam kondisi normal, membantu melawan infeksi.

Namun, pada pengguna vape, tingkat protease ini ditemukan sangat tinggi dan tidak seimbang dengan inhibitornya. Ketidakseimbangan ini menyebabkan enzim tersebut mulai memecah serat elastis di paru-paru. Jika kondisi ini dibiarkan dalam jangka panjang, struktur paru-paru akan kehilangan elastisitasnya, yang merupakan jalur awal menuju penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) atau emfisema.

Perubahan Profil Sel Imun: Neutrofil yang Agresif

Vaping juga secara signifikan mengubah perilaku sel imun di dalam paru-paru, khususnya sel neutrofil. Neutrofil adalah garis depan sistem kekebalan tubuh yang bertugas menyerang bakteri. Studi AJRCCM mengungkapkan bahwa uap elektrik memicu neutrofil untuk melepaskan jaring-jaring DNA yang disebut Neutrophil Extracellular Traps (NETs).

Dalam kondisi normal, NETs bermanfaat untuk menjebak kuman. Namun, pada paru-paru pengguna vape, pelepasan NETs terjadi secara berlebihan dan tanpa adanya infeksi bakteri yang nyata. Keberadaan NETs yang liar ini justru memicu peradangan luas pada jaringan sehat, menyebabkan kerusakan pembuluh darah kecil di paru-paru, dan memperburuk kondisi peradangan kronis.

Dampak Zat Perasa dan Pelarut terhadap Alveoli