POLA JABAR - Osteoporosis sering kali dijuluki sebagai "pencuri senyap" karena pengeroposan tulang terjadi tanpa gejala fisik yang nyata hingga terjadi patah tulang. International Osteoporosis Foundation (IOF) secara konsisten menekankan bahwa nutrisi merupakan pilar utama dalam pencegahan dan pengelolaan kondisi ini.

Di antara berbagai sumber nutrisi, susu menempati posisi sentral sebagai penyedia makro dan mikro mineral yang esensial untuk menjaga kepadatan massa tulang.

Mengapa Susu Menjadi Fondasi Kesehatan Tulang?

Susu bukan sekadar minuman pelengkap, melainkan sebuah matriks nutrisi kompleks. Bagi penderita osteoporosis, jaringan tulang mereka membutuhkan asupan berkelanjutan untuk melakukan proses regenerasi. Susu menyediakan tiga komponen kunci yang bekerja secara sinergis: kalsium, vitamin D, dan protein.

Kalsium adalah komponen struktural utama dari tulang. Berdasarkan standar global, orang dewasa membutuhkan asupan kalsium yang cukup untuk mencegah tubuh "mencuri" kalsium dari tulang guna memenuhi kebutuhan fungsi saraf dan otot.

Susu merupakan salah satu sumber kalsium yang paling mudah diserap oleh tubuh manusia (memiliki bioavailabilitas tinggi) dibandingkan dengan sumber nabati tertentu.

Sinergi Kalsium dan Vitamin D dalam Susu

International Osteoporosis Foundation menyoroti bahwa kalsium tidak dapat bekerja sendirian. Tubuh memerlukan vitamin D untuk menyerap kalsium dari saluran pencernaan ke dalam aliran darah. Banyak produk susu saat ini telah difortifikasi dengan vitamin D, menjadikannya paket lengkap untuk mendukung kesehatan skeletal.

Bagi penderita osteoporosis, konsumsi susu membantu memastikan bahwa laju resorpsi tulang (penghancuran) tidak jauh melampaui laju formasi tulang (pembentukan). Protein yang terkandung dalam susu juga berperan penting dalam menjaga massa otot.