POLA JABAR - Di dunia nutrisi, kacang almond sering kali dijuluki sebagai "superfood". Namun, bagi sebagian orang yang sedang menjalani program diet ketat, kandungan lemak dalam almond terkadang menimbulkan keraguan. Benarkah lemak dalam almond itu baik?
Merujuk pada ulasan kesehatan dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, almond bukan sekadar camilan renyah. Ia adalah paket nutrisi kompleks yang didominasi oleh lemak tak jenuh, jenis lemak yang justru dibutuhkan tubuh untuk melawan berbagai penyakit kronis.
Profil Lemak Tak Jenuh yang Dominan
Sekitar 50 persen dari berat kacang almond terdiri dari lemak. Namun, jangan salah sangka. Sebagian besar lemak ini adalah asam lemak tidak jenuh tunggal (monounsaturated fats), jenis yang sama dengan yang ditemukan dalam minyak zaitun.
Menurut para ahli di Harvard, lemak tidak jenuh tunggal ini berperan penting dalam melindungi kesehatan jantung. Berbeda dengan lemak jenuh yang dapat menyumbat pembuluh darah, lemak dalam almond bekerja dengan cara membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) sekaligus menjaga kadar kolesterol baik (HDL) tetap stabil.
Mekanisme Perlindungan Jantung
Alasan mengapa almond dianggap sangat sehat bukan hanya karena jenis lemaknya, tetapi juga karena bagaimana lemak tersebut berinteraksi dengan nutrisi lain. Lemak sehat dalam almond bertindak sebagai "kendaraan" bagi vitamin larut lemak, seperti Vitamin E.
Almond adalah salah satu sumber alami Vitamin E terbaik di dunia. Sebagai antioksidan kuat, Vitamin E bekerja mencegah oksidasi kolesterol dalam pembuluh darah. Ketika lemak sehat dan Vitamin E ini bekerja bersama, mereka menciptakan efek perlindungan ganda yang secara signifikan mengurangi risiko peradangan dan pembentukan plak di arteri.
Mengontrol Gula Darah dan Berat Badan