POLA JABAR - Bunga mawar sering kali dianggap sebagai simbol universal untuk cinta dan romansa. Namun, jika kita menengok ke belakang melalui kacamata sejarah, kelopak-kelopak indah ini menyimpan narasi yang jauh lebih kompleks. Dari ruang perjamuan kaisar Romawi hingga medan perang di Inggris, mawar telah menjadi saksi bisu perebutan kekuasaan, kesucian agama, hingga kerahasiaan politik.

Menyadur informasi dari History.com, mawar diperkirakan telah ada sejak 35 juta tahun yang lalu. Namun, peran simbolisnya baru mulai mengakar kuat saat peradaban manusia mulai berkembang pesat.

Jejak Spiritual di Mesir dan Keanggunan Romawi

Di Mesir Kuno, bunga mawar dianggap sebagai tanaman suci. Ratu Cleopatra konon menggunakan kelopak mawar dalam jumlah melimpah untuk mengharumkan ruangannya, sebuah upaya untuk membangun citra diri yang memikat dan berkuasa. Bagi bangsa Mesir, mawar adalah persembahan untuk Dewi Isis, simbol dari keibuan dan kesuburan.

Bergeser ke peradaban Romawi, mawar memiliki fungsi yang lebih praktis namun tetap simbolis. Para kaisar mengisi kolam mandi mereka dengan air mawar dan menaburkan kelopaknya di lantai ruang pesta. Menariknya, mawar juga melambangkan kerahasiaan. Istilah "Sub Rosa" (dibawah mawar) lahir dari tradisi Romawi di mana mawar digantung di langit-langit ruang pertemuan; apapun yang diucapkan di bawah bunga tersebut tidak boleh dibocorkan ke luar ruangan.

War of the Roses: Saat Mawar Menjadi Identitas Perang

Salah satu catatan paling ikonik dalam sejarah Inggris adalah Perang Mawar (War of the Roses) yang terjadi pada abad ke-15. Dalam konflik berdarah ini, mawar tidak lagi melambangkan kelembutan, melainkan identitas faksi politik yang bertikai.

Keluarga York menggunakan mawar putih sebagai simbol mereka, sementara keluarga Lancaster menggunakan mawar merah. Perseteruan ini berakhir ketika Henry Tudor (Henry VII) menyatukan kedua keluarga tersebut melalui pernikahan, menciptakan "Mawar Tudor" yang menggabungkan warna merah dan putih sebuah simbol perdamaian dan persatuan yang masih digunakan oleh monarki Inggris hingga hari ini.

Mawar dalam Konteks Religi dan Spiritualitas