POLA JABAR - Anemia defisiensi besi adalah salah satu masalah gizi yang paling umum di dunia. Kondisi ini membuat tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat, seringkali menyebabkan kelelahan, lesu, dan penurunan fokus. Meskipun banyak orang menyadari pentingnya mengonsumsi makanan kaya zat besi, ada satu 'pahlawan super' yang sering terlewatkan: Vitamin C, atau yang dikenal juga sebagai asam askorbat.
Menurut British Nutrition Foundation (BNF), peran vitamin C jauh melampaui sekadar menjaga daya tahan tubuh. Vitamin C adalah faktor krusial yang menentukan seberapa efisien tubuh Anda dapat menyerap zat besi dari makanan yang Anda konsumsi.
Mengapa Zat Besi Sulit Diserap? Memahami Dua Jenis Zat Besi
Zat besi yang kita konsumsi terbagi menjadi dua jenis utama, dan inilah mengapa vitamin C menjadi sangat penting:
Zat Besi Heme: Ditemukan dalam sumber hewani seperti daging merah, unggas, dan ikan. Jenis ini relatif mudah diserap oleh tubuh, dengan tingkat penyerapan yang cukup tinggi.
Zat Besi Non-Heme: Ditemukan dalam sumber nabati seperti bayam, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sereal yang diperkaya. Inilah jenis zat besi yang penyerapannya sangat dipengaruhi oleh vitamin C. Penyerapan zat besi non-heme secara alami jauh lebih rendah dan dapat terhambat oleh komponen makanan lain (seperti fitat dalam biji-bijian atau tanin dalam teh/kopi).
Mekanisme Ajaib Vitamin C: 'Kunci' Penyerapan Non-Heme
Vitamin C memainkan peran kimiawi yang sangat spesifik dalam proses penyerapan. Di dalam saluran pencernaan, khususnya di lambung, vitamin C bertindak sebagai agen pereduksi.
Begini cara kerjanya secara sederhana: