POLA JABAR - Bagi masyarakat modern, mawar mungkin hanyalah sekadar komoditas romantis di hari kasih sayang. Namun, jika kita menengok ke belakang melalui catatan Ancient Origins, bunga ini memiliki kedudukan yang jauh lebih sakral dan kompleks dalam peradaban Eropa kuno. Dari taman-taman di Yunani hingga pesta pora kekaisaran Romawi, mawar adalah nafas dari kebudayaan mereka.
Mawar bukan sekadar tanaman; ia adalah entitas yang menjembatani dunia manusia dengan para dewa, sekaligus menjadi kode etik dalam pertemuan politik yang paling rahasia.
Dalam tradisi Yunani Kuno, asal-usul mawar selalu dikaitkan dengan peristiwa tragis dan emosional para dewa. Salah satu legenda paling populer menyebutkan bahwa mawar diciptakan oleh Chloris, dewi bunga, yang mengubah tubuh seorang nimfa yang mati menjadi bunga yang indah.
Namun, warna merah mawar yang ikonik diyakini berasal dari darah Aphrodite. Saat sang dewi cinta berlari menolong kekasihnya, Adonis, kakinya tergores duri semak mawar putih. Darah yang menetes mengubah kelopak-kelopak tersebut menjadi merah selamanya. Cerita ini menjadikan mawar sebagai simbol cinta yang melampaui kematian, sebuah konsep yang kemudian diadopsi secara luas dalam seni dan sastra Eropa selama ribuan tahun.
Bangsa Romawi mengambil kecintaan terhadap mawar ke tingkat yang lebih ekstrem, baik secara estetika maupun fungsional. Mereka sangat terobsesi dengan bunga ini hingga membangun rumah kaca raksasa agar mawar bisa mekar di musim dingin.
Satu tradisi unik yang paling berpengaruh adalah konsep Sub Rosa (di bawah mawar). Dalam pertemuan penting atau pesta rahasia, orang Romawi sering menggantung mawar di langit-langit ruangan. Hal ini menandakan bahwa segala sesuatu yang dibicarakan di bawah mawar tersebut bersifat rahasia dan tidak boleh dibocorkan ke luar. Pelanggaran terhadap aturan ini dianggap sebagai pengkhianatan serius. Inilah alasan mengapa hingga hari ini, mawar sering ditemukan dalam ukiran langit-langit ruang pertemuan kuno di Eropa.
Selain keindahannya, masyarakat Eropa kuno sangat mempercayai kekuatan penyembuhan dari mawar. Para tabib di masa itu menggunakan air mawar dan minyak mawar untuk mengobati berbagai penyakit, mulai dari depresi hingga masalah pencernaan.
Dalam ritual keagamaan, kelopak mawar sering disebarkan di altar atau digunakan dalam upacara pemakaman sebagai simbol kebangkitan dan keabadian jiwa. Bagi mereka, wangi mawar yang menyengat diyakini mampu mengusir energi negatif dan membawa kedamaian bagi roh yang sedang bertransisi ke dunia bawah (Underworld).
Seiring masuknya era baru di Eropa, simbolisme mawar tidak hilang, melainkan bertransformasi. Mawar merah yang dulunya identik dengan Aphrodite, mulai dikaitkan dengan darah para martir dan kemudian menjadi simbol Perawan Maria (yang sering dijuluki sebagai "Mawar Tanpa Duri").