POLA JABAR - Susu bubuk sering kali dianggap sebagai opsi "kedua" setelah susu segar. Padahal, dalam skala industri pangan global, produk ini merupakan salah satu inovasi terpenting untuk menjaga ketersediaan nutrisi di berbagai belahan dunia.
Berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO), susu bubuk bukan sekadar produk instan, melainkan sumber protein dan mikronutrien yang sangat terkonsentrasi.
Apa Itu Susu Bubuk Secara Teknis?
Secara sederhana, susu bubuk adalah hasil dari penghilangan air dari susu cair melalui proses pengeringan. Menurut literatur teknis FAO, kadar air dalam susu bubuk biasanya ditekan hingga di bawah 5 persen.
Proses ini bertujuan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga produk memiliki masa simpan yang jauh lebih lama tanpa memerlukan pendinginan konstan.
Profil Nutrisi: Lebih dari Sekadar Kalsium
Susu bubuk mempertahankan sebagian besar komponen gizi utama dari susu asalnya. FAO mencatat bahwa susu bubuk merupakan sumber protein hewani yang sangat efisien. Protein dalam susu bubuk, seperti kasein dan whey, mengandung asam amino esensial yang lengkap untuk pertumbuhan jaringan tubuh.
Selain protein, susu bubuk kaya akan mineral penting. Kalsium dan fosfor hadir dalam jumlah yang signifikan, yang berperan krusial dalam pembentukan tulang dan gigi. Menariknya, dalam banyak program pangan FAO, susu bubuk sering kali diperkaya (fortifikasi) dengan Vitamin A dan Vitamin D untuk mengatasi masalah defisiensi nutrisi di negara-negara berkembang.
Perbedaan Gizi Berdasarkan Jenisnya