POLA JABAR - Kelinci, yang diklasifikasikan dalam ordo Lagomorpha dan famili Leporidae, sering kali disalahpahami sebagai hewan pengerat atau Rodentia, padahal kelinci memiliki perbedaan fundamental dalam struktur anatomi dan biologinya yang membuatnya dikelompokkan dalam ordo tersendiri. 

Secara garis besar, anatomi kelinci mencerminkan adaptasi sempurna terhadap kehidupan di alam liar sebagai mangsa yang mengandalkan kecepatan, kewaspadaan, dan strategi makan yang efisien. Tubuh kelinci terbagi menjadi empat bagian utama, yaitu caput (kepala), cervix (leher), truncus (badan), dan cauda (ekor), yang ditopang oleh rangka ringan namun kuat yang dikelilingi oleh lapisan otot yang padat, terutama pada bagian tungkai. 

Ciri fisik yang paling menonjol dan menjadi identitasnya adalah telinga yang panjang (pinnae), yang bukan hanya berfungsi sebagai organ pendengaran yang sangat sensitif untuk mendeteksi ancaman predator dari jarak jauh, tetapi juga memiliki peran vital dalam termoregulasi atau pengaturan suhu tubuh. 

Jaringan pembuluh darah yang luas di telinga membantu kelinci melepaskan panas berlebih, menjadikannya mekanisme pendinginan alami yang sangat penting, mengingat kelinci tidak berkeringat layaknya mamalia lain. Adaptasi ini menunjukkan betapa setiap detail morfologi kelinci memiliki fungsi ganda untuk kelangsungan hidupnya.

Aspek lain yang sangat mendominasi anatomi kelinci adalah struktur kaki dan kemampuan pergerakannya yang unik. Kelinci adalah hewan tetrapoda, memiliki empat anggota gerak, namun terdapat ketidakseimbangan ukuran yang disengaja antara kaki depan dan kaki belakang. Kaki belakang jauh lebih panjang, lebih besar, dan jauh lebih berotot dibandingkan kaki depan yang relatif kecil. 

Disparitas ukuran ini adalah rahasia di balik bentuk penggeraknya yang khas, yaitu melompat atau bounding, bukan berlari seperti kuda atau anjing. Tungkai belakang yang kuat dan berartikulasi sedemikian rupa dengan tulang paha yang terhubung ke tibia, sementara fibula menyatu dengan tibia memungkinkan kelinci menghasilkan kekuatan maksimum untuk akselerasi dan manuver cepat. 

Ketika merasa terancam, kekuatan otot pada tungkai belakang ini memungkinkan kelinci mencapai kecepatan tinggi dan melakukan lompatan zigzag yang sulit dikejar oleh predator, suatu mekanisme pertahanan yang didukung pula oleh bidang penglihatan yang hampir 360 derajat di sekitar tengkoraknya, hanya menyisakan titik buta kecil tepat di depan hidung.

Sistem pencernaan kelinci merupakan salah satu keajaiban biologis yang paling menarik dan menjadi pembeda utama kelinci dari hewan rodentia (hewan pengerat), sekaligus alasan mengapa kelinci dikelompokkan dalam Lagomorpha. 

Kelinci merupakan herbivora dengan sistem pencernaan monogastrik (berlambung tunggal) namun digolongkan sebagai pseudoruminant karena memiliki kemampuan khusus untuk memfermentasikan pakan berserat.