POLA JABAR - Dalam dunia wewangian, tren bisa datang dan pergi. Kadang aroma gourmand yang manis mendominasi, di waktu lain aroma oud yang kuat menjadi primadona. Namun, ada satu bahan baku yang posisinya tidak pernah goyah selama berabad-abad: Bunga Mawar.
Dijuluki sebagai "Ratu Bunga", mawar adalah tulang punggung dari ribuan komposisi parfum, mulai dari yang bergaya klasik hingga kontemporer. Mengutip data dari direktori parfum ternama, Fragrantica, mawar muncul dalam lebih dari 75 persen parfum wanita dan setidaknya 10 persen parfum pria di seluruh dunia. Apa yang membuatnya begitu istimewa?
Dua Jenis Mawar yang Menguasai Dunia
Meskipun ada ribuan varietas mawar, industri parfum kelas atas hanya berfokus pada dua jenis utama yang memiliki karakter aromatik paling kompleks.
Pertama adalah Rosa Damascena atau Mawar Damask. Mawar ini banyak dibudidayakan di Bulgaria (dikenal sebagai Rose Valley) dan Turki. Aromanya cenderung kaya, sedikit rempah, dan memiliki kedalaman yang luar biasa. Tak heran jika mawar jenis ini sering ditemukan dalam parfum high-end seperti Dior Miss Dior Rose N'Roses.
Kedua adalah Rosa Centifolia, yang sering disebut sebagai "Mawar Seribu Kelopak" atau Rose de Mai. Jenis ini tumbuh subur di Grasse, Prancis, yang merupakan ibu kota parfum dunia. Berbeda dengan Damask, Centifolia menawarkan aroma yang lebih ringan, manis seperti madu, dan sangat jernih. Eksklusivitasnya membuat mawar ini menjadi bahan utama parfum ikonik seperti Chanel No. 5.
Proses Ekstraksi: Mengapa Harganya Sangat Mahal?
Jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa sebotol parfum mawar murni bisa dibanderol jutaan rupiah, jawabannya terletak pada proses produksinya. Menurut literatur Fragrantica, untuk menghasilkan hanya satu kilogram minyak mawar (Rose Essential Oil), dibutuhkan sekitar empat ton kelopak bunga mawar yang dipetik dengan tangan saat subuh.
Ada dua metode utama yang biasa digunakan: