POLA JABAR - Budidaya padi, yang merupakan sumber makanan pokok bagi lebih dari separuh populasi dunia, secara tradisional sangat bergantung pada praktik irigasi intensif, penggunaan pupuk kimia yang tinggi, dan aplikasi pestisida. Meskipun praktik ini berhasil meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan global yang terus bertambah, dampaknya terhadap lingkungan, terutama dalam bentuk emisi gas rumah kaca dan pencemaran air, menjadi perhatian utama.
Namun, saat ini, teknologi baru menawarkan solusi revolusioner yang memungkinkan peningkatan hasil panen sekaligus menjaga kelestarian ekosistem. Salah satu fokus utama inovasi ini adalah pengembangan Sistem Intensifikasi Padi atau System of Rice Intensification (SRI) yang dimodifikasi dengan sentuhan teknologi modern, sebuah pendekatan yang menekankan pada pengelolaan air, tanah, dan nutrisi secara lebih presisi dan efisien, jauh dari praktik konvensional sawah yang tergenang secara permanen.
Inovasi paling signifikan yang didorong oleh penelitian, seperti yang dipublikasikan dalam Science Daily Agriculture, berpusat pada dua tantangan lingkungan utama: pengurangan emisi metana dan efisiensi penggunaan air. Sawah yang terus tergenang air (flooded) menjadi lokasi ideal bagi bakteri anaerobik untuk menghasilkan metana , gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih kuat daripada karbon dioksida. Untuk mengatasi masalah ini, teknologi modern memperkenalkan Pengelolaan Air Basah-Kering Bergantian (Alternate Wetting and Drying atau AWD).
Teknik ini melibatkan pembasahan sawah hingga batas tertentu, lalu membiarkannya mengering secara alami hingga muncul retakan rambut di permukaan tanah sebelum dibasahi kembali. Praktik ini secara efektif mengurangi waktu kondisi anaerobik di dalam tanah, yang mampu menurunkan emisi metana hingga 30-50% tanpa mengurangi hasil panen secara signifikan, karena akar padi tetap mendapatkan aerasi yang optimal.
Selain manajemen air, teknologi baru juga berfokus pada optimasi nutrisi melalui Pertanian Presisi (Precision Agriculture). Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan tidak hanya mahal tetapi juga menyebabkan eutrofikasi (pengayaan nutrisi) pada sumber air, merusak ekosistem akuatik. Solusi yang ditawarkan adalah penggunaan sensor, drone, dan citra satelit yang dikombinasikan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) untuk menganalisis kebutuhan nutrisi tanaman padi secara real-time dan sangat spesifik lokasi.
Dengan alat-alat ini, petani dapat mengidentifikasi area mana yang kekurangan nitrogen atau unsur hara lain dan memberikan dosis pupuk yang tepat hanya pada area yang membutuhkan.
Pendekatan ini, yang dikenal sebagai Pemberian Pupuk Berbasis Kebutuhan Tanaman, secara dramatis mengurangi limbah pupuk dan meminimalkan pencemaran air, sekaligus memastikan padi menerima nutrisi optimal untuk pertumbuhan yang sehat.
Teknologi ini juga merambah ke pengembangan varietas padi baru yang secara genetik lebih efisien dalam penggunaan nitrogen dan lebih toleran terhadap kondisi kekeringan parsial, yang merupakan keunggulan saat menerapkan teknik AWD.
Selain itu, ada peningkatan penggunaan biopestisida dan biofungisida produk berbasis organisme hidup atau bahan alami untuk mengendalikan hama dan penyakit, yang menjadi alternatif aman pengganti pestisida kimia sintetis yang berbahaya.