POLA JABAR - Selama bertahun-tahun, rokok elektrik atau vape dipromosikan sebagai alternatif yang jauh lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Namun, seiring dengan berkembangnya penelitian di bidang toksikologi genetik, tabir "keamanan" tersebut mulai tersingkap.
Salah satu kekhawatiran terbesar muncul dari temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Mutation Research, yang menyoroti potensi kerusakan DNA akibat paparan uap vape secara terus-menerus.
Kerusakan DNA bukan sekadar gangguan kesehatan biasa. Ini adalah perubahan pada cetak biru genetik sel yang, jika tidak diperbaiki oleh tubuh, dapat menyebabkan mutasi permanen dan memicu berbagai penyakit degeneratif, termasuk kanker.
Mekanisme Stres Oksidatif dan Genotoksisitas
Penelitian yang dipublikasikan dalam Mutation Research mengungkapkan bahwa uap yang dihasilkan oleh pemanasan cairan vape mengandung senyawa radikal bebas dalam konsentrasi yang signifikan. Ketika uap ini masuk ke dalam paru-paru dan bersentuhan dengan sel-sel epitel, ia memicu kondisi yang disebut stres oksidatif.
Stres oksidatif terjadi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh tidak mampu diimbangi oleh antioksidan. Molekul-molekul agresif ini menyerang struktur seluler, termasuk inti sel tempat DNA berada.
Serangan ini dapat menyebabkan pemutusan untai DNA (DNA strand breaks) atau modifikasi kimiawi pada basa nitrogen DNA. Temuan ini mematahkan persepsi bahwa uap vape hanyalah uap air biasa; sebaliknya, itu adalah aerosol kompleks yang aktif secara kimiawi.
Dampak Senyawa Kimia dan Pemanasan Koil
Risiko genotoksik dari vaping tidak hanya berasal dari nikotin, tetapi juga dari proses penguapan itu sendiri. Cairan vape yang mengandung propilen glikol dan gliserol sayuran, ketika dipanaskan pada suhu tinggi oleh koil logam, dapat terurai menjadi senyawa karbonil berbahaya seperti formaldehida, asetaldehida, dan akrolein.