POLA JABAR - Rokok elektronik atau vape sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam berbagai literatur kesehatan, termasuk jurnal spesialis metabolisme, mulai mengungkap sisi gelap yang selama ini jarang dibicarakan: bagaimana uap dari perangkat ini berinteraksi dengan proses kimiawi di dalam sel tubuh manusia.

Jauh melampaui kesehatan paru-paru, pengaruh rokok elektronik kini mencapai sistem metabolisme, yang merupakan mesin penggerak utama energi dan kesehatan organ dalam kita.

Salah satu temuan yang paling menonjol adalah bagaimana paparan zat kimia dalam rokok elektronik mempengaruhi metabolisme lipid atau lemak. Studi menunjukkan bahwa nikotin dan zat tambahan lainnya dalam cairan vape dapat memicu akumulasi lipid di hati. Fenomena ini sering dikaitkan dengan risiko perlemakan hati non-alkohol.

Selain itu, senyawa kimia yang dihasilkan dari pemanasan e-liquid dapat mengubah cara tubuh memecah lemak untuk energi. Alih-alih dibakar secara efisien, proses ini justru sering terhambat, yang dalam jangka panjang berpotensi mengganggu profil kolesterol dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Efek yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah kaitan antara penggunaan rokok elektronik dengan metabolisme glukosa. Nikotin, yang tetap menjadi komponen utama dalam banyak jenis vape, dikenal dapat memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin. Hormon ini secara langsung dapat menghambat kerja insulin dalam menyerap gula darah ke dalam sel.

Kondisi ini menciptakan lingkungan dimana tubuh mengalami resistensi insulin. Jika terus berlanjut, gangguan metabolik ini menjadi faktor risiko utama bagi pengembangan diabetes tipe 2. Banyak pengguna vape yang tidak menyadari bahwa kebiasaan mereka mungkin sedang secara perlahan mengubah sensitivitas tubuh terhadap gula darah.

Proses metabolisme yang sehat membutuhkan keseimbangan kimiawi yang stabil. Namun, uap rokok elektronik mengandung radikal bebas dan partikel halus yang memicu stres oksidatif pada tingkat sel. Ketika sel-sel tubuh mengalami stres oksidatif, mitokondria yang berfungsi sebagai "pabrik energi" sel dapat mengalami kerusakan fungsi.

Penurunan fungsi mitokondria ini berdampak langsung pada laju metabolisme basal. Tubuh menjadi kurang efisien dalam mengelola energi, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi berat badan, tingkat kebugaran, dan kemampuan tubuh untuk memulihkan diri dari peradangan.

Penting untuk dipahami bahwa dampak metabolik ini tidak hanya datang dari nikotin. Zat perasa kimia yang memberikan aroma buah atau manis pada vape memiliki struktur molekul yang dapat berinteraksi dengan reseptor rasa di seluruh sistem pencernaan dan jaringan adiposa (lemak).