POLA JABAR - Saat cuaca panas menyengat, potongan semangka dingin seringkali menjadi penyelamat dahaga yang paling dicari. Buah yang didominasi oleh kandungan air ini memang menawarkan kesegaran instan sekaligus nutrisi penting seperti vitamin A, C, dan likopen. Namun, bagi kelompok orang tertentu terutama mereka yang harus memantau fungsi ginjal—pertanyaan besar muncul: bagaimana dengan kandungan kaliumnya?

Merujuk pada data dan panduan dari National Kidney Foundation (NKF), memahami asupan kalium dari buah-buahan seperti semangka adalah kunci untuk menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh.

Mengapa Kalium Begitu Penting?

Kalium adalah mineral yang berperan krusial dalam menjaga detak jantung tetap teratur dan memastikan otot bekerja dengan baik. Namun, tubuh manusia ibarat sebuah neraca yang presisi. Kadar kalium yang terlalu rendah (hipokalemia) atau terlalu tinggi (hiperkalemia) sama-sama bisa berakibat fatal bagi jantung.

Bagi individu dengan ginjal yang sehat, kelebihan kalium akan dibuang dengan mudah melalui urine. Namun, bagi penyandang penyakit ginjal kronis (PGK), ginjal tidak lagi mampu menyaring mineral ini secara efisien, sehingga pengaturan pola makan menjadi sangat vital.

Membedah Kandungan Kalium dalam Semangka

Banyak orang salah kaprah dan menganggap semua buah yang sangat berair pasti rendah kalium. Berdasarkan klasifikasi dari National Kidney Foundation, semangka sebenarnya masuk dalam kategori buah dengan kandungan kalium rendah hingga sedang, tergantung pada ukuran porsinya.

Satu porsi semangka (sekitar 150-180 gram atau satu irisan sedang) mengandung kurang lebih 170 mg kalium. Secara umum, makanan dianggap rendah kalium jika mengandung kurang dari 200 mg per porsi. Artinya, semangka relatif lebih aman dikonsumsi dibandingkan buah tinggi kalium seperti pisang atau alpukat yang kadar kaliumnya bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat.

Aturan Main Mengkonsumsi Semangka bagi Kesehatan